51 Ribu Anak di Kota Bandung Rawan Stunting

EDUKASI: Direktur Group Risiko Lembaga LPS Dwi Gayatri (kanan) saat mendampingi anak-anak saat menimbang berat badan usai peresmian Desa GEMPITA (Gerakan Menu Empat Bintang) di Taman Pandawa, Kota Bandung, Kamis (18/7/2019).
(foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

EDUKASI: Direktur Group Risiko Lembaga LPS Dwi Gayatri (kanan) saat mendampingi anak-anak saat menimbang berat badan usai peresmian Desa GEMPITA (Gerakan Menu Empat Bintang) di Taman Pandawa, Kota Bandung, Kamis (18/7/2019). (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Stunting masih menjadi ancaman bagi anak Indonesia.
Khusus di Kota Bandung, sekitar 51 ribu anak dinyatakan rawan stunting. Banyak faktor yang menjadi penyebab, salah satunya asupan gizi yang buruk.

Ketua Forum Bandung Sehat, Siti Muntamah mengungkapkan, stunting membawa dampak negatif, tidak hanya pada hidup si anak, tapi juga pada potensi bonus demografi.

“Jika dibandingkan dengan anak yang sehat di Kota Bandung, jumlahnya sekitar 200 ribu-an, jumlah 51 ribu orang anak ini memang tidak terlalu banyak, tapi ya jangan nunggu sampai banyak,” ucap Siti kepada wartawan, Kamis (18/7/2019).

Perempuan yang akrab disapa Umi ini mengatakan, beberapa ciri-ciri anak yang terkena stunting adalah perawakan pendek. Tinggi badan anak tidak sesuai dengan umurnya, dan lebih pendek jika dibandingkan dengan tinggi anak normal lainnya.

“Jadi, untuk anak yang sudah duduk di bangku SMP pun, yang memang masih masuk usia anak-anak, bisa terkena stunting,” jelasnya.

Untuk penyebab stunting ini, Umi mengatakan, faktor utamanya adalah kekurangan gizi yang diakbitkan oleh malnutrisi kronis.

“Di Kota Bandung ini, kan banyak sekali makanan cepat saji, sehingga tidak memenuhi kecukupan yang gizi yang dibutuhkan,” terangnya.

Untuk itu, Pemkot Bandung terus melakukan upaya dibanyak sektor. Di lingkungan anak sekolah, anak-anak dan orang tua diingatkan untuk membawa bekal dari rumah.

“Karena makanan rumah lebih sehat dan bergizi, ketimbang jajan di luar,” katanya.

Kemudian, lanjut dia, sedangkan untuk anak remaja putri mendapatkan pil gak penambah darah ketika haid. Demikian juga untuk para warga mendapatkan edukasi dan sosialisasi terkait asupan gizi pada anak dan bayi.

“Karena yang terpenting adalah asupan gizi anak selama 1.000 hari pertama. Itu yang akan banyak mempengaruhi hidupnya,” tegas Umi.

Umi mengingatkan, kebiasaan makan anak sangat bergantung kebiasaan orang dewasa di sekitarnya.

“Kalau dibiasakan makan makanan bergizi anak juga pasti akan doyan. Jadi jangan dibiasakan anak makan apa yang dia mau. Jangan sampai hanya memanjakan lidah,” pungkasnya.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds

Meriah, Kompetisi Make Up QL Cosmetic

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG-Puluhan makeup artist pemula (MUA), profesional dan kalangan umum memeriahkan gelaran kompetisi makeup yang digagas produsen kosmetik terkenal QL …
undip

Trainer UNDIP Gembleng Ratusan Guru

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI) bekerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang dan Dinas Pendidikan dan …
pembangunan

Pembangunan NS-Link Belum Jelas

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Rencana pembangunan tol dalam kota North South Link (NS-Link) di Kota Bandung tidak jelas keberlanjutannya. Padahal sebelumnya, …
pts

Tel-U Peringkat Pertama PTS di Indonesia

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Telkom University (Tel-U) menempati peringkat kesatu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) nasional dalam klasterisasi Perguruan Tinggi (PT) Indonesia …
sportifitas

Tanamkan Sportifitas Sejak Dini

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Sebanyak 16 tim sepak bola tingkat SMP se – Jawa Barat meriahkan Gala Siswa Indonesia (GSI) 2019. …