Waspada Krisis Air untuk Pemadaman Kebakaran

KRISIS AIR: Warga sedang mendapatkan bantuan air bersih di Kabupaten Bandung Barat, belum lama ini. (foto : MOCH HABIBI/RADAR BANDUNG)

KRISIS AIR: Warga sedang mendapatkan bantuan air bersih di Kabupaten Bandung Barat, belum lama ini. (foto : MOCH HABIBI/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pemadam Kebakaran (Damkar) pada Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Bandung Barat (KBB), mewaspadai sulitnya mendapatkan pasokan air untuk memadamkan kebakaran.


Kabid Pemadam Kebakaran pada Dinas Satpol PP dan Damkar KBB, Nanan Sunandar mengatakan, hal ini menjadi persoalan baru yang harus dihadapi petugas damkar di tengah meningkatnya ancaman kebakaran yang sewaktu-waktu dapat terjadi di saat meningkatnya suhu udara pada musim panas ini.

“Musim kemarau biasanya kami dihadapkan pada persoalan meningkatnya kejadian kebakaran dan terbatasnya sumber air yang bisa digunakan,” terang Nanan Sunandar kepada di kantornya, Selasa (2/7/2019).

Dia menyebutkan ada beberapa sumber air yang selama ini sering dipergunakan oleh anggotanya dalam menanggulangi kebakaran.

Seperti dari saluran irigasi di Caringin Padalarang, Rendeh, Cikalongwetan, Lembang, dan Saguling di Kecamatan Cililin. Dikhawatirkan ketika musim kemarau sumber-sumber air itu mengering sehingga tidak bisa dimanfaatkan.

Selain ancaman menyusutnya debit air, jarak pos damkar ke lokasi-lokasi tersebut juga cukup jauh. Hal ini semakin menjadi kendala. Apalagi banyak titik-titik rawan macet di kawasan perkotaan sehingga membuat ruang gerak mobil damkar menjadi lambat.

Akibatnya respons time kedatangan petugas ke lokasi kebakaran seringkali terlambat. Belum lagi kondisi geografis KBB yang sangat luas dan keterbatasan mobil damkar yang dimiliki.

“Idealnya respons time dari pelaporan kejadian sampai petugas tiba di lokasi di bawah 15 menit. Tapi karena macet dan jarak yang jauh membuat respons time biasanya sekitar setengah jam, sehingga ketika petugas datang hanya tinggal melakukan proses pendinginan,” kata Nanan yang didampingi Danton I, Saepudin.

Berdasarkan data 2018 di pihaknya tercatat ada sebanyak 134 kejadian terdiri dari kebakaran, longsor, evakuasi mobil terbaik, sarang tawon, ular, evakuasi mayat dari sumur, sapi, kucing, dan anjing tercebur sumur, hingga siaga pengamanan.

Sebagian besar kebakaran didominasi karena terbakarnya semak belukar di musim panas dan rumah akibat korsleting listrik atau pemilik lupa mematikan kompor.

Sementara untuk triwulan pertama 2019, baru tercatat 31 kejadian, terdiri dari kebakaran, longsor, evakuasi orang, dan evakuasi sarang tawon dengan total kerugian mencapai Rp1,9 miliar.

Untuk daerah rawan kebakaran semak belukar di kawasan Kota Baru, Batujajar, Cipatat, Cihampelas, dan Cipeundeuy.

“Masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara pembakaran alang-alang. Karena itu bisa jadi pemicu kebakaran di musim kemarau,” pungkasnya.

(bie)

Loading...

loading...

Feeds

Menyongsong Peradaban Baru Era 5.0

SEIRING perjalanan hidup manusia beserta peradaban yang dilahirkannya, kemajuan industri dan teknologi kerap tercermin dari masa ke masa. Generasi demi …