Sumur Perusahaan Air Minum Lanccer Ditutup

PEMANTAUAN : Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat dan BPMD Kabupaten Subang melakukan pantauan ke sejumalah sumur produksi perusahaan air kamasan di desa Gamarsari, Subang, Selasa (2/7/2019).
( foto : M.ANWAR/RADAR BANDUNG )

PEMANTAUAN : Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat dan BPMD Kabupaten Subang melakukan pantauan ke sejumalah sumur produksi perusahaan air kamasan di desa Gamarsari, Subang, Selasa (2/7/2019). ( foto : M.ANWAR/RADAR BANDUNG )

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Dampak musim kemarau yang melanda Subang dan sekitarnya sejak sebulan terakhir, sumur-sumur warga di Kp.Ciwera, Desa Gambarsari, Kecamatan Pagaden, mulai mengering.


Selain dampak kemarau kekeringan itu diduga dipicu oleh keberadaan sejumlah  sumur produksi perusahaan air minum kemasan di wilayah tersebut.

Mendapat laporan warga, Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat dan BPMD Kabupaten Subang langsung berkoordinasi dengan perangkat desa setempat dan melakukan penanganan.

Untuk memsatikan hal itu masyarakat bersama Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat dan BPMD Kabupaten Subang mendatangi perusahaan air minum kemasan yang berada di Desa Gambarsari ,Kecamatan Pagaden.

Di lokasi ditemukan ada empat sumur yang satu sumur buangan gunanya untuk cadangan air, yang dua sumur produksi sedangkan yang satu lagi sumur buat mandi, karena dicurigai akhirnya pihak ESDM menutup sumur tersebut karena tidak mengantungi izin dari dinas ESDM.

“Adanya perusahaan air minum Lanccer tersebut membuat sumur-sumur kami kekeringan, sebelum ada Lanccer sumur kami tak pernah kekeringan seperti sekarang ini, jangankan buat mandi cuci, buat minumpun kami tidak ada. Sumur kami kering,” kata warga Gambarsari, Rayem, Selasa (2/7/2019).

Selain itu menurut Rayem, justru yang membuat warga tidak mengerti perusahaan ini sudah mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup dan BPMD.

“Sedangkan kami dari dulu sampai sekarang belum pernah menandatangani izin lingkungan, sepengetahuan kami dulu perusahaan ini memproduksi orson mutiara Jaya, dan pada tahun 2013 berubah jadi air minum kemasan merk Lanccer,” ungkapnya.

Sejak perusahaan ini berdiri belum pernah yang namanya perusahaan mengeluarkan 15 persen keuntungannya ke masyarakat, keluhan masyarakat tidak didengar. ” Akhirnya kami melaporkan ke dinas instansi terkait,” katanya.

Dinas ESDM Propinsi Jawa Barat sendiri sedang mengkaji apakah keringnya sumur warga akibat dampak dari sumur produksi Lanccer atau tidak.

“Iya, kita kaji dulu, dari hasil tadi pengukuran kedalaman sumur produksi perusahaan dan kedalaman sumur warga itu tidak berdampak banyak karena sumur produksi perusahaan tingkat kedalamannya lebih dalam dari sumur warga, itu kan baru kita lihat kasarnya tapi kita perlu kajian, nanti kita hasil kajian akan disampaikan kepada warga,” kata Aep dari ESDM.

Selain itu menurut Aep pihaknya hanya menemukan satu sumur yang dicurigai. Sumur tersebut sumur produksi, pihaknya bersama warga telah menutup sumur tersebut, kebetulan sumur tersebut belum mengantongi izin.

“Dari hasil musyawarah dengan warga, intinya warga meminta kepada pihak perusahaan untuk segera mengurus izin lingkungan yang sampai sekarang belum di tempuh, kedua pihak perusahaan harus mengeluarkan 15 persen keuntungan ke warga, ke tiga, perusahaan segera membikinkan toren air, dan yang ke empat pihak perusahaan harus menjalin tali silaturahmi dengan warga,” pungkasnya.

(anr)

Loading...

loading...

Feeds