Wisata Alam Geopark Rajamandala Tawarkan Wisata Edukasi

( IST )

( IST )

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Wisata alam Geopark Rajamandala diharapkan dapat menjadi tempat wisata edukasi bagi peneliti maupun masyarakat luas karena memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Namun sampai sekarang belum tergali dan terpublikasikan secara optimal.


Geopark Rajamandala sendiri meliputi kawasan Stone Garden, Guha Pawon, Tebing Hawu, Tebing 125, Pabeasan, Sanghyang Heuleut, Sanghyang Tikoro,  Sanghyang Poek, Sanghyang Kenit, dan Cikahuripan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat Sri Dustirawati menjelaskan, selama ini pengelolaan sejumlah kawasan Geoprak Rajamandala berada di tangan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.

“Pemerintah memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengelola objek wisata. Prinsip kami, masyarakat jangan jadi penonton tapi harus ikut menikmati. Tapi pemerintah tetap menyediakan fasilitas pendukung, seperti pembukaan ataupun perbaikan akses jalan sampai pada promosi,” jelas Sri saat ditemui di ruangan kerjanya di Mekarsari, Ngamprah, Rabu (26/6/2019).

Padahal, kata Sri Geopark Rajamandala sudah ditetapkan bersama empat geoprak lain diempat kabupaten di Jawa Barat dalam perjanjian kerja sama pada 13 November 2018. Melibatkan Pemprov Jawa Barat, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Pangandaran.

Hanya Geoprak Ciletuh yang sudah dikenal luas masyarakat. Campur tangan provinsi dengan menggelontorkan anggaran  ke Ciletuh membuat sarana dan prasarananya sangat memadai.

“Saya berharap Geopark Rajamandala juga bisa mendapat perhatian lebih dan dibantu pengembangan wisatanya oleh Pemprov Jabar, seperti Geopark Ciletuh Sukabumi yang sudah dibantu,” kata Sri.

Sri menambahkan, hanya saja untuk pembukaan ataupun perbaikan akses jalan menuju objek wisata geopark, pemerintah harus menelusuri status kepemilikan jalan tersebut.

Jika milik BUMN, seperti Perhutani dan PTPN maka harus dibuatkan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), sedangkan kalau tanah warga, berarti harus dilakukan pembebasan,” ucapnya.

Ia menargetkan, pascapenandatangan MoU oleh Bupati Aa Umbara Sutisna yang dilaksanakan akhirtahun 2018, Geopark Rajamandala menjadi geopark nasional seperti halnya Ciletuh. Bahkan bisa berstatus Unesco Global Geopark.

Konsep asas geopark menurut UNESCO adalah pembangunan ekonomi secara mapan melalui warisan geologi atau geotourism. Tujuan dan sasaran dari Geopark untuk melindungi keragaman Bumi (geodiversity) dan konservasi lingkungan, pendidikan dan ilmu kebumian secara luas.

Menurutnya, pengembangan geopark di suatu daerah akan berdampak langsung kepada manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan. Konsep geopark memperbolehkan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam kawasan, untuk menjaga keterkaitan nilai-nilai warisan bumi dengan masyarakat. Masyarakat pun dapat berpartisipasi aktif di dalam revitalisasi kawasan secara keseluruhan.

(bie)

Loading...

loading...

Feeds

Larang Warga Mudik, Kapolri Minta Maaf

POJOKBANDUNG.com – Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo meminta masyarakat dapat memahami kebijakan pemerintah melarang adanya mudik pada periode libur …