Petani di Cipageran Terpaksa Panen Dini

KEMARAU : Petani di Kampung Pasir Kiara, Keluraha Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, memanen padi.
( Foto : WHISNU PRADANA/RADAR BANDUNG )

KEMARAU : Petani di Kampung Pasir Kiara, Keluraha Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, memanen padi. ( Foto : WHISNU PRADANA/RADAR BANDUNG )

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Kekeringan yang melanda Kota Cimahi sejak sebulan lalu, cukup dirasakan petani di wilayah Keluarahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara. Bagaimana tidak, sejak sebulan lalu, lahan persawahan di wilayah tersebut tidak teraliri air.

Sejauh ini, di RW 16 Kampung Pasir Kiara, ada 15 hektare sawah yang digarap oleh 23 petani, namun padi yang bisa diselamatkan oleh panen dini, hanya 75 persen, sisanya terancam gagal panen.

Menurut salah seorang petani di wilayah Cipageran, apabila dalam waktu dekat ini tidak ada tanda-tanda perubahan cuaca,  dipastikan  padi di lahan sawah miliknya tidak akan berkembang. Ditambah lagi, sumber air dari irigasi saat ini sudah tidak mengalir. Sehingga pertumbuhan padi terhambat atau parahnya mati.

“kalau masalah cuaca, siapapun tidak bisa bantu. Itu sudah kuasa Alloh SWT,” kata Onda Gunawan (52).

Untuk mensiasatinya, Onda bersama petani lainnya memilih melakukan panen dini, sehingga tidak akan terlalu mengalami kerugian yang besar, jika sisa lahan lainnya mengalami kegagalan panen.

“Dengan kondisi sekarang, paling bagus panennya 10 hektare,” tuturnya.

Saat ini, retakan tanah di lahan sawah tersebut sudah nampak. Sumber air irigasi dari Sungai Cijanggel, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sudah mengering.

“Ini kekeringannya sudah dari pertengahan puasa. Udah gak ada airnya sama sekali,” terangnya.

Idealnya, padi yang ditanam baru bisa dipanen sekitar 1 bulan lagi. Saat ini kondisi butir padi yang ditanam banyak yang masih muda, berwarna hijau, dan belum berisi.

“Ini juga sebetulnya belum waktunya panen, harusnya 2 (dua) minggu atau maksimal sebulan lagi. Tapi kepaksan panen dini, takut lebih parah. Yang penting selamat padinya,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cimahi Utara, Rani Kurniati mengatakan, pada musim kemarau yang terbilang panjang ini, diharapkan kedepannya para petani beralih menanam palawija atau menanam padi dengan bibit padi gogo (inpago).

“Inpago itu memang untuk ditanam di lahan kering dan pegunungan, dialihkan jadi bibit itu. Kalau sekarang kan pakai inpari 42, harus banyak terlari air. Kalau palawija juga sebetulnya harus ada air,” jelasnya.

Padi yang dipanen petani di Kota Cimahi, kata dia, biasanya untuk dikonsumsi masyarakat sekitar persawahan ataupun dijual ke lasar tradisional, meskipun jumlahnya sangat sedikit.

“Misalnya yang disini, hanya 6,5 ton sekali panen, biasanya bisa sampai 2 kali panen setahun, kalau sekarang hanya sekali. Itu paling untuk dikonsumsi mereka saja, dan warga sekitar, jarang kalau dijual ke luar,” bebernya.

Kendati kegagalan panen padi sudah didepan mata, pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, selaku dinas terkait dengan mudah menyebutkan, sejauh ini wilayah pertanian di Kampung Pasir Kiara, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi utara memang menjadi langganan kekeringan setiap tahunnya.

“Memang di sana setiap tahun selalu begitu. Setelah di cek ke saluran irigasinya, ternyata memang tidak ada air,” kata Kepala Bidang Pertanian Kota Cimahi, Mita Mustikasari.

Selain di wilayah Cimahi Utara, lahan sawah lain yang kerap mengalami kekeringan yakni di wilayah Cibogo, Kecamatan  Cimahi Selatan, yang letaknya berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat.

Melihat  kondisi yang terjadi sekarang, sebetulnya yang dibutuhkan oleh petani tak lain adalah pasokan air. Sehingga, meski musim kemarau padi bisa tetap berkembang.

Anggota Komisi 3 DPRD Kota Cimahi, Dadang Mulyana menilai, mengeringnya lahan persawahan di Cimahi terutama di wilayah Cipageran, lantaran imbas dari pembangunan, baik perumahan atau lokasi komersil lainnya.

“Tentu saya pibadi sangat menyayangkan, tidak terkontrolnya pembangunan yang pada akhirnya ada yang dirugikan,” kata Dadang.

“Memang akhirnya dilema, karena Cimahi ini terbatas lahannya. Kebutuhan mendesak, lahan yang ada berupa sawah, terpaksa disulap jadi hunian. Tapi kita coba pertahankan lahan yang tersisa,” katanya singkat.

(dan)

Loading...

loading...

Feeds

DLH Juara KIP Kabupaten Bandung 2019

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung mendapatkan penghargaan sebagai peringkat pertama untuk kategori Utama Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penerapaan Undang-undang …

Ketua KPK “Kejar” Jokowi Terbitkan Perppu

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih bersedia untuk dapat menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti …