Pedagang Pasar Purwadadi Ngotot Tolak Relokasi

DEMO : Para pedagang Pasar Purwadadi kembali melakukan aksi unjuk rasa di halaman kantor Bupati Subang, Kamis (20/6/2019).
(foto: M.ANWAR/RADAR BANDUNG )

DEMO : Para pedagang Pasar Purwadadi kembali melakukan aksi unjuk rasa di halaman kantor Bupati Subang, Kamis (20/6/2019). (foto: M.ANWAR/RADAR BANDUNG )

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Para pedagang Pasar Purwadadi kembali melakukan aksi unjuk rasa di halaman kantor Bupati Subang, Kamis (20/6/2019).


Kedatangan ratusan pendemo yang umumnya para pedagang pasar tersebut tak lain untuk menyuarakan kembali penolakan revitalisasi pasar Purwadadi oleh pengembang swasta yang dinilai sangat memberatkan para pedagang karena nilai jualnya ruko maupun kios seharga Rp 16 juta permeter persegi.

“Pemkab Subang dan pengembang sangat memaksakan kehendak untuk tetap merevitalisasi pasar Purwadadi,” ucap Ketua Paguyuban Pasar Purwadad Uus Kusno.

Menurut Uus, rencana revitalisasi pasar Purwadadi sangat memberatkan para pedagang ditengah sepinya pembeli.

“Pengembang meminta harga Rp.16 juta permeter persegi dengan dicicil selama 30 tahun. Jelaslah kami para pedagang menolak dan tak sanggup membayar dengan harga jual sebesar itu padahal idealnya harga permeter Rp. 4 juta,” katanya.

Untuk itu kami meminta Pemkab Subang untuk meninjau ulang rencana melakukan revitalisasi pasar oleh pihak pengembang yang sangat memberatkan pedagang

“Cabut SK Plt. Bupati Subang (Ating Rusnatim) yang sebelummya telah memberikan ijin pembangunan pasar Purwadadi kepada pihak swasta,” tegasnya.

Para Pendemo juga menegaskan, sangat mendukung revitalisasi pasar Purwadadi asal tidak diswastakan.

“Kita ingin revitalisasi pasar Purwadadi dilakukan oleh Disperindagsar Pemkab Subang bukan oleh pihak swasta karena pihak swasta terlalu mahal menjual kios ke kami para pedagang,” katanya.

Sementara itu menurut Kepala UPTD Pasar Purwadadi Achmad Sunandar mengatakan, pembangunan pasar tradisional Purwadadi tidak bisa ditunda atau diberhentikan, karena menurutnya pengembang sudah menempuh semua legalitas prosedur, dari mulai tahap lelang, surat izin, hingga SPK sudah turun.

Dia juga beranggapan bahwa memang sebaiknya pembangunan pasar tradisional Purwadadi, dikerjakan oleh pengembang, sebab Pemda menurutnya akan menerima banyak keuntungan, PAD dari pasar tradisional Purwadadi yang setiap tahunnya hanya 40 juta.

“Untuk pengembang sendiri, ditargetkan bisa mencapai 300 juta, kemudian menurutnya pihak pengembang juga sudah menandatangi kontrak dengan Pemda selama 30 tahun kedepan, untuk pengelolaan pasar tradisional Purwadadi, sedangkan pengawasan tetap oleh UPTD Pasar Purwadai,” ungkapnya

Dijelaskannya, dalam revitalisasi pasar Purwadadi tersebut akan dikerjakan oleh pihak swasta  murni yakni PT. Bangun Bina Persada.

“Sudah pasti dalam pengerjaannya akan dihancurkan semua, kalau sama Pemda selama ini kan hanya renovasi, hasilnya ya tidak maksimal, lagi pula kalau pasar bagus, bersih, bikin nyaman semua juga pasti senang,”ucapnya.

Terkait persoalan harga sewa lapak yang dianggap terlalu mahal, Achmad menilai hal itu bisa dikomunikasikan dengan pengembang dan pihaknya bisa bantu dorong untuk negosiasi harga sewa lapak tersebut.

Terpisah, pihak pengembang Direktur Pelaksana PT.Bangun  Bina Persada H. Engkus, saat di hubungi melalui telepon selularnya menegaskan, bahwa pihak perusahaan secara legal sudah mendapati izin dari Bupati, dan sudah menerima Surat Perintah Kerja (SPK).

“Selain itu, sebanyak 250 pedagang sudah menyatakan di atas materai sepakat dengan pembangunan pasar tradisional tersebut,” ujar Engkus.

(anr)

Loading...

loading...

Feeds