Habib Bahar Bin Smiths Kutip Pedoman Islam

SIDANG: Terdakwa kasus Penganiayaan Terhadap dua Santri, Bahar Bin Smith saat menjalani Sidang dalam agenda sidang pledoi di Kantor Arsip dan Perpusatakaan, Kota Bandung.
(foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

SIDANG: Terdakwa kasus Penganiayaan Terhadap dua Santri, Bahar Bin Smith saat menjalani Sidang dalam agenda sidang pledoi di Kantor Arsip dan Perpusatakaan, Kota Bandung. (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terdakwa penganiaya dua remaja laki-laki, Bahar bin Smiths, membacakan Pledoi atas tuntutan enam tahun bui oleh Tim Jaksa Kejari Cibinong dan Jaksa Kejari Jawa Barat di Kantor Dinas Perpustakan dan Arsip, Jalan Seram, Kota Bandung, Kamis (20/6/2019).


Bahar bin Smiths dalam Pledoinya memasukan tiga pedoman islam, hal itu dimaksudkan untuk menjadi pertimbangan majelis hakim Pengadilan Negri Bandung dalam memutuskan putusan hukuman kepada Bahar bin Smith.

Mulanya Bahar bin Smiths mengucapkan salam dan ucapan terimakasih kepada beberapa pengadilan, kepolisian dan seluruh pendukungnya. Kemudian Bahar menyampaikan kepada majelsi Hakim M.Edison bahwa dalam pledoinya ada tiga kutipan pedoman islam.

“Izinkan saya membawa ayat-ayat Alquran sedikit dan sedikit Hadis serta sedikit pendapat para ulama yang berkaitan dengan adanya persidangan ini,”kata Bahar saat membacakan Pledoi dihadapan Ketua Majelis Hakim M. Edison.

Setelah itu Bahar, langsung membacakan pedoman Islam salah satunya, yakni, surat Ali Imron, ayat 110 yang artinya, manusia adalah umat terbaik, ya Allah keluarkan bagi seluruh umat manusia menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.

Dalam ayat tersebut, Bahar mengambil tafsir dari dua tokoh-tokoh islam, salah satunya dari Al-imam Ibnu Jarir Ath-thabari.

“Pada intinya menurut Al-imam Ibnu Jarir Ath-thabari dalam kitab tafsirnya bahwasanya ciri umat Islam terbaik adalah umat yang menyeru memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran,”ungkapnya.

Dalam Pledoinya, Bahar juga menyinggung soal kepercayannya kepada majelis hakim, dimana majelis hakim diyakininya, bisa lebih adil dalam melihat satu permasalahan hukum.

“Saya yakin majelis yang mulia tidak akan membenarkan yang salah walaupun yang salah itu kawan dan tidak akan menyalahkan yang benar walaupun yang benar itu tidak sejalan dengan majelis hakim,”tuturnya.

“Karena hakim semuanya itu urusannya dengan Allah yakni berdasarkan ketuhanan yang maha esa maka saya tutup pembelaan saya ini yang mulia,”tambahnya.

Sementara, pengacara Bahar, Ichwan Tuankotta mengatakan, dibacakanya Pledoi oleh Bahar menjadi bahan pertimbangan majelis hakim untuk bisa memutus hukuman yang seringan-ringannya.

“Kami minta diberikan putusan hukuman yang seringan-ringannya, jadi bukan putusan bebas yah,”ujar Ichwan usai persidangan.

Menurut Ichwan, dalam tuntutan jaksa khususnya dalam hal-hal yang memberatkan tertulis, bahwa bahar pernah terlibat hukum dalam kasus penghinaan kepada kepala negara.

“Kami tau awal sebelum kasus ini Bahar sempat terjerat kasus menghina kepala negara. Kami tidak ada hubungkan dengan itu, anggapan kami terlihat ada pihak yang intervensi,”jelasnya.

Sedangkan Tim Jaksa Kejari Jawa Barat, Suharaja mengatakan, tuntutan yang disampaikan sudah berdasarkan fakta-fakta selama persidangan berlangsung. Tidak berdasarkan luar fakta persidangan.

“Dalam tuntutan sebelum itu kan ada hal-hal yang memberatkan dan meringankan, tentu itu semua berdasarkan fakta persidangan,”kata Suharaja.

Suharaja menilai, meskipun ada bantahan bahwa tuntutan tidak sesuai fakta persidangan, pihaknya menghormati atas pandangan tersebut dan penyampaian Pledoi dari Bahar.

“Kami hormati Itu kan menurut pendapat mereka, kita hormati juga terdakwa selaku pendakwah, kita tetap hotmati yah,”kata dia.

Diberitakan sebelumnya, Bahar bin Smith, dituntut enam tahun penjara oleh Tim Jaksa Kejari Cibinong dan Jaksa Kejari Jawa Barat. Tuntutan tersebut disampaikan dalam sidang tuntutan yang digelar oleh PN Bandung, di Gedung Arsip, Jalan Seram, Kota Bandung, Kamis (13/6/2019).

Bahar diyakini JPU Kejari Cibinong telah melakukan penganiyayaan dua remaja santri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki.

JPU menyatakan, terdakwa terbukti bersalah dengan melakukan penganiayaan, pengeroyokan, dan merampas kemerdekaan orang lain, terhadap dua anak remaja, yakni M Khoirul Umam Al Mudzaqi (17) dan Cahya Abdul Jabar (18).

Dalam berkas tuntutan, jaksa meyakini Bahar terbukti bersalah sesuai pasal Pasal 333 ayat (2) KUHPidana dan atau Pasal 170 ayat (2) dan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Jaksa pun meminta majelis hakim memerintahkan agar Bahar tetap berada dalam penjara.

(azs)

Loading...

loading...

Feeds