Sebar Hoaks Tentara Tiongkok Berkeliaran di Bulungan, Anggota DPRD Jadi Tersangka

POJOKBANDUNG.com –  Anggota DPRD Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Muhammad Nafis, ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran hoaks, terkait informasi mengenai tentara Tiongkok yang bersenjata lengkap, berkeliaran di Gunung Sari, Tanjung Selor, Bulungan.


Dir Reskrimsus Polda Kaltara Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra menjelaskan, Muhammad Nafis menyebarkan informasi yang diduga tidak benar melalui akun Facebooknya.

Setelah melihat posting-an video beberapa hari lalu itu, polisi lantas melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenarannya. Sekaligus menelusuri akun Facebook yang mem-posting video tersebut.

Hasilnya, rombongan warga negara asing (WNA) yang disebut tentara Tiongkok tersebut, hanyalah enam orang pelajar yang tengah melakukan penelitian mengenai pohon gaharu Gunung Sari. Sebelum ke Gunung Sari, rombongan pelajar asing tersebut lebih dulu berkumpul di Hotel Platinum, Tanjung Selor.

“Anggota turun ke lokasi melakukan pengumpulan alat bukti untuk memperoleh fakta yang sebenarnya. Anggota juga menemukan bahwa yang memviralkan video tersebut atas nama Muhammad Nafis,” katanya dikutip dari Berau Post (Jawa Pos Group), Sabtu (27/4).

Pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap keenam orang pelajar tersebut, mulai dari identitas, paspor dan lainnya. Pihaknya juga memastikan dari mana dan kapan mereka tiba di Bulungan, siapa yang mengantar, dan kegiatan apa yang dilakukan.

“Dalam bukti surat paspor, mereka itu pelajar yang akan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan gaharu. Tidak ada satupun alat bukti yang menunjukkan ada senjata api lengkap yang digunakan. Oleh sebab itu, kami mengambil kesimpulan informasi yang di-posting oleh Muhammad Nafis adalah hoaks, tidak benar, tidak sesuai dengan faktanya,” jelasnya.

Sadar dengan kekeliruannya, pemilik akun yang tak lain adalah anggota DPRD Bulungan itu, lantas menghapus video tersebut. Namun ujar Helmi, hal itu tidak akan menghambat proses hukum mengenai penyebaran hoaks, hingga akhirnya Muhammad Nafis ditetapkan sebagai tersangka.

Berdasarkan rangkaian penyelidikan dan penyidikan, yang bersangkutan diduga melanggar Pasal 14 Ayat (1) dan (2) dan Pasal 15 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946. Serta, melanggar Pasal 20, 51 Ayat (1) Undang-undang Informasi Transaksi Eletronik (ITE).

“Dia (tersangka) memanipulasi kata segala macam, karena faktanya tidak seperti itu. Sehingga hasil gelar (perkara) memutuskan untuk meningkatkan ke tahap penyidikan dan menetapkan penyebar berita hoaks atas nama Muhammad Nafis sebagai tersangka,” bebernya.

Ia menegaskan, dalam hal perbuatan melawan hukum pihaknya tidak pandang bulu. “Si penyebar berita hoaks itu sudah secara sadar dan mengakui (kesalahannya), sehingga meminta maaf kepada aparat,” ucapnya.

Hingga kemarin, sudah ada 12 orang saksi yang dimintai keterangan, yakni aparat dan warga desa yang mengetahuinya kedatangan rombongan pelajar Tiongkok tersebut. Pengelola dan satpam hotel yang turut mengantarkan WNA tersebut ke Gunung Sari juga diperiksa.

Apakah tersangka akan ditahan? Ditanya demikian, Helmi menyebut hal itu tergantung keputusan ketua tim yang menangani perkara tersebut.

Bagaimana dengan permintaan maaf dari tersangka? Menurut Helmi, permintaan maaf tidak akan membuat proses hukum dihentikan.

“Tidak bisa berhenti begitu saja. Walaupun minta maaf tetap proses hukum berlanjut,” ujarnya.

Selain kepada aparat, Muhammad Nafis juga sudah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kaltara. Dirinya tidak menyangkal telah menyebarkan informasi mengenai keberadaan tentara asal Tiongkok di Gunung Sari, Kabupaten Bulungan.

“Awalnya saya kira itu warga asing. Namun, ternyata mereka pelajar dari Cina. Saya menyesal dan memohon maaf atas posting-an saya,” ujar Muhammad Nafis menyampaikan permohonan maafnya.

(jpc)

Loading...

loading...

Feeds