UPI Bandung Ciptakan Dispenser dan Timbangan Bicara Khusus Penyandang Disabilitas

Mahasiswa UPI saat memperagakan cara kerja dispenser dan timbangan bicara di gedung UC, UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jumat (12/4).

Mahasiswa UPI saat memperagakan cara kerja dispenser dan timbangan bicara di gedung UC, UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jumat (12/4).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Komunitas Mahasiwa Penggemar Otomasi dan Robotika (KOMPOR) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), ciptakan dispenser dan timbangan bicara. Inovasi itu dikhususkan bagi penyandang disabilitas (tunanetra), sebagai alat bantu kegiatan sehari-hari.


Inovasi ini muncul dari kepedulian sejumlah mahasiswa terkait adanya keterbatasan penyandang disabilitas. Misalnya untuk menyeduh segelas kopi, atau minum, air yang dituangkan di gelas kadang tak sesuai takaran. Termasuk untuk mengukur berat, penyandang disabilitas membutuhkan bantuan orang lain.

“Kadang penyandang disabilitas (tunanetra), kalau mau menuangkan air dari dispenser suka sulit, mereka harus mencelupkan tangan ke gelas untuk mengetahui sudah penuh atau tidak,” ucap Ketua Pelaksana Kompor UPI mengabdi Untuk Negeri,
Wahyudin di gedung UC, UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jumat (12/4).

Kata Wahyudin, berbekal dari sana ia dan rekannya merancang dispenser dan timbangan bicara. Teknis kerjanya, dispenser ini akan bicara jika gelas sudah penuh sesuai takaran yang diinginkan. Begitu juga dengan timbangan yang akan mengeluarkan suara untuk informasi berapa berat barang.

“Penyandang disabilitas tinggal memilih volume air untuk air panas atau dingin yang terhubung dengan tombol huruf broille di samping dispenser. Tombol pun sudah ada takaran-takarannya,” ujarnya.

Kata Wahyudin, dispenser bicara akan mengalirkan air sesuai permintaan. Di saat bersamaan, juga muncul suara yang memberitahukan besaran volume air.

“Dispenser ini akan memudahkan penyandang disabilitas saat menuangkan air. Kalau timbangan bicara tak jauh beda. Timbangan akan bunyi dan menginformasikan besaran takaran barang yang disimpan di timbangan, sehingga penyandang disabilitas tau beratnya berapa gram atau kilogram,” sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua UKM Kompor UPI, Bahha Hamzah menambahkan, proses pembuatan kedua inovasi ini memerlukan waktu kurang lebih 1,5 bulan. Waktu yang cukup lama ialah dari sisi riset di lapangan (SLB A), Pajajaran Bandung.

“Setelah riset juga kan kita mencoba beberapa pembuatan dan revisi produk.
Saat ini, kedua inovasi telah siap digunakan dan siap diperbanyak,” jelasnya.

Kata Bahha, kendala selama proses pengerjaan kedua inovasi tersebut memang banyak. Namun, yang paling dirasakan ialah masalah pendanaan. Pasalnya, untuk satu dispenser bisa menghabiskan Rp700 ribu.

“Selama ini sih masih patungan (iuran) dari kami (mahasiswa). Apalagi untuk diproduksi secara massal harus butuh dana yang banyak,” ujarnya.

Loading...

loading...

Feeds

Nakes di Bandung Rasakan Efek Vaksin Covid-19

POJOKBANDUNG.com , BANDUNG – Tahap pertama pelaksanaan suntik vaksin Covid-19 di Kota Bandung sudah dimulai, Kamis (14/1/2021). Sejumlah Puskesmas dan …