Waspadai Tuberkulosis, Jabar Rawan TB

Tuberkulosis

oleh
Dr. Evi Y,Sp.P, MKM (PDPI JABAR)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tuberculosis (TB l) di masyarakat, banyak dikenal sebagai KP ( Koch Pulmonum ) atau flek paru. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi TB. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M.TB). Indonesia menempati urutan no. 2 sesudah India. Di Indonesia (menurut WHO) : 450.000 kasus baru/thn, dan 64.000 meninggal/tahun. Di tingkat nasional, Jawa Barat menyumbang kasus TB ± 18% (no. 1).

Di Indonesia (Hasil Riskesdas ),TB merupakan penyebab kematian no.2 setelah stroke dan penyebab no.1 kematian dari semua penyakit infeksi. Sekitar 75% menyerang usia produktif (15-50 th), dan meningkatnya kasus TB pada Bayi dan Balita mengindikasikan besarnya sumber penularan TB di masyarakat yang umumnya dari penderita dewasa. Potensi peningkatan penderita TB di masyarakat , seiring dengan meningkatnya kasus HIV – AIDS dan rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga ataupun karena kondisi geografis dan sosial ekonomi yang kurang mendukung.

Beban TB meningkat karena dampak meningkatnya kasus TB-MDR, TB- HIV, TB dengan Diabetes Mellitus (DM), TB pada anak dan masyarakat rentan lainnya.

Perjalanan alamiah TB setelah individu menghirup kuman M.TB, 70% individu yang terpajan kuman tidak terinfeksi, sedangkan 30% sisanya terinfeksi. Tiga puluh persen individu yang terinfeksi, 90% diantaranya tidak menunjukkan gejala klinis dan 10% sisanya berkembang menjadi TB aktif. TB tidak hanya menyerang organ paru saja namun bisa ke seluruh tubuh.
Gejala TB paru aktif : batuk lama >= 2minggu, demam, nyeri dada, berat badan turun, keringat malam, batuk darah , lemah badan dan nafsu makan menurun.

Penegakan diagnosis dilakukan juga dengan pemeriksaan penunjang seperti dahak dan foto rontgen dada atau dengan pemeriksaan histopatologi.

Pengobatan pasien TB diberikan dalam bentuk panduan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang tepat mengandung 4 macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan dalam dosis yang tepat. Obat harus ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas Minum Obat) sampai selesai pengobatan.

Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi dalam tahap awal dan tahap lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Pengobatan TB yang tidak benar dan teratur dapat meningkatkan faktor resiko MDR TB (Multi Drug Resistant TB). Dengan pengobatan yang teratur dan benar TB dapat disembuhkan.

Strategi pemerintah untuk eliminasi TB dengan Penguatan Kepemimpinan Program TB di Kabupaten/Kota, Peningkatan Akses Layanan TB yang Bermutu dengan “TOSS-TB” (Temukan Obati Sampai Sembuh – TB), Pengendalian Faktor Risiko,Peningkatan Kemitraan TB melalui Forum Komite Ahli Gerdunas TB, Peningkatan Kemandirian Masyarakat dalam Pengendalian TB, Penguatan Manajemen Program melalui Penguatan Sistem Kesehatan.

(ymi)

loading...

Feeds

rs

Dewan Sorot Kekosongan Pimpinan Enam RS

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat bakal mengagendakan pertemuan dengan Pemeritah Provinsi Jawa Barat, terutama …
regulasi

Regulasi Rumit Ganggu Harga Pangan

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Galuh Octania mengingatkan pemerintah terkait harga pangan. Menurutnya, bahwa regulasi …

Kemendikbud Siapkan Rotasi Guru

Pendekatan zonasi tidak hanya diterapkan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa pendekatan serupa …