Pecahkan Rekor MURI, Kopassus Kibarkan Bendera Terbesar Dunia Saat Terjun Bebas

POJOKBANDUNG.com, BATUJAJAR – Sebanyak 17 prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) kibarkan bendera terbesar berukuran 9×6 meter di Lanud Adi Suparlan, Batujajar, Kab. Bandung Barat, Selasa (19/3/2019).

Pemecahan rekor ini dilakukan saat terjun bebas dari ketinggian 8000 kaki dan hanya memiliki waktu antara 8-10 detik, untuk bersama-sama terlibat mengibarkan bendera merah putih.

Komandan Jendral Kopassus, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa mengaku, pengibaran bendera saat terjun bebas ini menjadi satu-satunya yang baru dilaksanakan di dunia dan ini tidak bisa dilakukan oleh prajurit biasa.

“Kemampuan ini membutuhkan jam terbang yang cukup banyak, pengalaman dan juga kemampuan untuk berfikir saat situasi tegang atau stres, agar tetap kontrol diri. Mereka latihannya cuman tiga hari,” ujar Nyoman usai pemecahan rekor.

Sebelumnya, Kopassus pun pernah melakukan pemecahan rekor serupa, namun ukuran bendera yang dikibarkan lebih kecil hanya 7×5 meter.

Sementara itu, Naila Novaranti (38), instruktur profesional terjun bebas untuk Kopassus mengatakan, olahraga dirgantara penuh tantangan semacam terjun payung sudah menjadi olahraga biasa bagi dirinya

Olivia Zalianty (kiri) dan Naila Novaranti (kanan)

Wanita kelahiran Jakarta ini telah dikenal sebagai atlet terjun payung tingkat dunia. Bahkan ia juga berprofesi sebagai instruktur profesional terjun bebas ini.

Dia menggeluti olahraga ekstrem ini sudah 8 tahun. Awalnya ia menjadi marketing di sebuah perusahaan parasut terjun payung di Amerika Serikat.

Saat ini dirinya menjadi perempuan Indonesia pertama yang mampu terjun payung dan menancapkan Bendera Merah Putih di Gunung Everest, Nepal.

Pengalaman yang tak terlupakan itu ya ketika bisa terjun di Mount Everest. Tapi, sulitnya itu saya kan bukan atlet panjat atau mendaki gunung, jadi saat itu saya harus berjalan kaki naik ke atas untuk naik pesawat sampai keringetan,” katanya di sela-sela kegiatan di Pusdiklatpass Kopasuss.

Ketika terjun di atas Mount Everest, lanjut Naila, cuacanya sangat mendukung dengan kondisi angin yang bagus. Pada saat itu, Naila mengaku melakukan unjuk kebolehan terjun payung membawa bendera Indonesia dan Kopassus.

“Itu (terjun payung) terjadi pada 19 November 2018. Dan dari Indonesia hanya saya. Banyak penerjun dari negara lain yang ikutserta dan sistemnya itu diseleksi,” ujarnya.

Naila juga mengaku, meski sudah 8 tahun bergelut dengan olahraga ekstrem ini, tetapi terkadang dia sering merasa takut luar biasa saat hendak terjun.

“Sampai-sampai saya juga sering cedera, seperti patah kaki, patah tulang ekor, dan patah pergelangan tangan. Tapi, keinginan saya yang ingin terus maju bisa melawan ketakutan itu,” pungkasnya.

(apt)

loading...

Feeds

petani

Petani di Cipageran Terpaksa Panen Dini

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Kekeringan yang melanda Kota Cimahi sejak sebulan lalu, cukup dirasakan petani di wilayah Keluarahan Cipageran, Kecamatan Cimahi …
rs

Dewan Sorot Kekosongan Pimpinan Enam RS

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat bakal mengagendakan pertemuan dengan Pemeritah Provinsi Jawa Barat, terutama …
regulasi

Regulasi Rumit Ganggu Harga Pangan

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Galuh Octania mengingatkan pemerintah terkait harga pangan. Menurutnya, bahwa regulasi …

Saya Sempat Ngerem, tapi Gak sampai

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Salatiga-Boyolali kemarin dini hari. Tepatnya di Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Semarang.