Ancam Kebebasan Bereskpresi, Polisi Didesak Bebaskan Robertus

Robertus Robert saat aksi Kamisan ke-575 di Monas (Istimewa)

Robertus Robert saat aksi Kamisan ke-575 di Monas (Istimewa)

POJOKBANDUNG.com – Tim Advokasi Kebebasan Berekspresi mendesak Robertus Robet dibebaskan. Sebelumnya aktivis HAM itu ditangkap dan digelandang ke Mabes Polri oleh tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Kamis dini hari (7/3).


“Robertus Robet harus segera dibebaskan demi hukum dan keadilan,” sebut Koordinator Kontras Yati Andriyani yang tergabung dalam Tim Advokasi Kebebasan Bereskpresi melalui rilisnya, Kamis (7/3).

n Robertus dilatarbelakangi aksi Kamisan pada 28 Februari lalu. Kala itu, Robertus diduga berorasi yang mengandung unsur menghina Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Yati menerangkan Robertus tidak dalam kapasitas menghina TNI pada saat itu. Ekspresi yang disampaikan justru sebagai bentuk kecintaannya terhadap TNI dalam artian mendorong agar institusi itu tetap profesional.

Bagi Robertus, menempatkan TNI di kementerian sipil berarti menempatkan TNI di luar fungsi pertahanan yang akan mengganggu profesionalitas TNI. Seperti telah ditunjukkan pada masa Orde Baru.

Para aktivis juga berpandangan, rencana penempatan TNI di luar institusi jelas bertentangan dengan fungsi TNI sebagai penjaga pertahanan negara sebagaimana diatur Pasal 30 ayat 3 UUD 1945 dan amandemennya, UU TNI serta TAP MPR VII/MPR/2000 tentang peran TNI dan peran Polri. Hal ini juga berlawanan dengan agenda reformasi TNI.

Memasukan TNI di kementerian-kementerian sipil juga mengingatkan pada dwi fungsi ABRI pada masa Orde Baru yang telah dihapus melalui TAP MPR X/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyemangat dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara dan TAP MPR VI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan POLRI.

Untuk itu Yati menegaskan, refleksi yang memberikan komentar apalagi atas kajian akademis terhadap suatu kebijakan tidak dapat dikategorikan sebagai kebencian atau permusuhan.

“Penangkapan kepada Robertus Robet adalah ancaman kebebasan sipil di masa reformasi,” tegas Yati.

Penangkapan terhadap Robertus pun dianggap tidak memiliki dasar dan mencederai negara hukum dan demokrasi. Terlebih, alasan penangkapannya didasari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Robert tidak menebarkan informasi apapun melalui elektronik karena yang dianggap masalah adalah refleksinya,” tutur Yati.

Sekadar informasi, dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Robertus berlangsung pada 28 Februari lalu. Yakni dalam Aksi Kamisan ke-575 di Monas, Jakarta. Aksi tersebut berfokus kepada penolakan Dwifungsi ABRI.

Dalam sebuah video yang beredar, berbunyi penggalan Mars Angkatan Bersenjata yang diubah liriknya. Berikut bunyi lirik yang diorasikan Robertus:

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak berguna
Bubarkan saja
Diganti Menwa
Kalau perlu diganti pramuka

(jpc)

Loading...

loading...

Feeds