Ma’ruf Amin: Jokowi Tak Butuh Ulama, tapi Merangkulnya

Ma’ruf Amin menghadiri pertemuan dan peresmian Posko Komunitas Milenial Ma’ruf Amin For Indonesia (KAMI Indonesia) di Jalan Sunda nomor 8, Kota Bandung, Sabtu (19/1)

Ma’ruf Amin menghadiri pertemuan dan peresmian Posko Komunitas Milenial Ma’ruf Amin For Indonesia (KAMI Indonesia) di Jalan Sunda nomor 8, Kota Bandung, Sabtu (19/1)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma’ruf Amin menegaskan, dari dulu banyak calon presiden yang meminta dukungan ulama. Sebab, ulama dinilai garda terdepan untuk meraih suara mayoritas muslim.


”Jika meminta dukungan ulama, dari dulu juga mendukung siapa saja yang datang. Tapi dukungan ulama ini diibaratkan mendorong mobil mogok. Setelah mobilnya maju, wabillahi taufiq wal hidayah, pengemudinya (Capres, Red) lupa,” tutur Ma’ruf Amin ketika menghadiri pertemuan dan peresmian Posko Komunitas Milenial Ma’ruf Amin For Indonesia (KAMI Indonesia) di Jalan Sunda nomor 8, Kota Bandung, Sabtu (19/1).

”Beda dengan Jokowi. Pak Jokowi tidak mencari dukungan ulama. Tapi merangkulnya,” sambungnya.
Rais Aam PBNU tersebut mengaku, mengapreasi kalangan milenial yang menjatuhkan pilihannya kepada paslon Jokowi-Ma’ruf Amin. Sebab, paslon tersebut dinilai tepat karena merupakan perpaduan antara pemimpin nasionalis dan Islam.

”Pak Jokowi representasi dari pemimpin nasionalis dan saya mewakili pemimpin dari Islam, ulama. Jika kedua unsur ini bersatu maka, negara akan kuat,” papar Ma’ruf Amin.

Menurut dia, Jokowi sudah banyak menanam pondasi dalam empat tahun kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla. Dan saat ini, pondasi infrastruktur tersebut tinggal diperluas di periode kedua bersama dirinya.

”Kita lihat saat ini jalan tol di mana-mana untuk memajukan ekonomi. Tidak lama lagi, Jokowi juga akan membangun Cigatas (Cileunyi-Garut-Tasikmalaya). Dan saya usulkan terus sampai ke Ciamis. Agar pemanfaatannya semakin baik untuk kesejahteraan warga Jawa Barat,” paparnya disambut meriah anggota KAMI Indonesia.

Di balik hal itu, Ketua MUI (2007-2010) tersebut sadar, Jokowi banyak dikritik. Dari berbagai sisi. Bagi dia itu lebih baik dari pada tidak pernah berbuat salah sama sekali.

”Ya yang kerja pasti ada salah. Tidak ada keputusan sempurna. Kalau tidak mau salah atau disalahkan, berarti tidak mau kerja,” pungkasnya.

(apt)

Loading...

loading...

Feeds