Jangan Salah Kaprah Maknai Hari Ibu, Saatnya Perempuan Indonesia Bangkit

Dra. Hj Lilis Santika, Anggota DPR RI dari Fraksi PKB

Dra. Hj Lilis Santika, Anggota DPR RI dari Fraksi PKB

POJOKBANDUNG.com, HARI ini tanggal 22 Desember 2018 sering diperingati sebagai Hari Ibu atau diluar negeri sebagai Mother’s Day. Secara umum Hari Ibu diperingati sebagai bentuk penghormatan kepada peran seorang ibu di dalam keluarga dan lingkungan sosialnya. Pada hari istimewa ini biasanya para ibu dibebastugaskan dari tugas-tugas domestiknya di rumah dalam mengurus keluarga. Di Indonesia sendiri peringatan Hari Ibu lebih banyak bernuansa seremonial dengan menggelar aneka lomba-lomba seperti lomba memasak, lomba berbusana, lomba merias, lomba senam dan lainnya.


Tidak ada yang salah dengan semua itu. Hanya saja, kalau kita menilik sejarah lahirnya Hari Ibu, sejatinya Hari Ibu ini ditetapkan Presiden Sukarno untuk memperingati Kongres Perempuan I pada 22-25 Desember 1928. Dalam kongres yang dihelat di Ndalem Joyodipuran Yogyakarta itu sedikitnya diikuti oleh 600 orang peserta yang merupakan perwakilan dari 12 organisasi wanita yang berasal dari berbagai latar belakang agama, suku, dan daerah di Indonesia.

Dalam kongres yang dilaksanakan di zaman pemerintahan kolonial Belanda ini, selain berasal dari perwakilan organisasi perempuan seperti Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyiyah, Wanita Moeljo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa. Juga dihadiri sejumlah perwakilan dari berbagai organisasi pergerakan kemerdekaan Indonesia seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Partai Nasional Indonesia (PNI), Jong Java, Jong Madoera, Jong Islamieten Bond, dan lainnya.

Lantas apa yang dibicarakan dalam Kongres Perempuan I ini? Kongres Perempuan I ini digelar karena terinspirasi perjuangan yang dilakukan para pejuang perempuan, beberapa isu yang dibicarakan dalam kongres ini pun tidak jauh dari perjuangan mengangkat harkat derajat kaum perempuan. Perjuangan gender seperti yang digelorakan RA Kartini di zaman itu yang sudah dianggap zaman kemajuan, perempuan tidak harus terkungkung dengan budaya lama yang menghendaki perempuan harus berdiam diri di dapur saja tetapi harus sudah memiliki pandangan maju bisa sejajar dengan kaum laki-laki dalam segala bidang kehidupan.

Namun, seperti disampaikan panitia Kongres Perempuan I saat itu, RA Soekonto menyatakan, perjuangan gender tidak lantas menjadikan perempuan seperti laki-laki. Menurutnya perempuan tetaplah seorang perempuan. Hanya saja derajatnya harus bisa sejajar atau sama dengan laki-laki jangan sampai direndahkan seperti di masa-masa feodal dahulu.

Pada Kongres Perempuan I juga sudah membicarakan masalah politik. Ini artinya suara-suara politik perempuan sudah semakin diperhitungkan. Bagaimana manuver politik dari organisasi-organisasi wanita itu hingga pada akhirnya lewat kongres perempuan itu menghasilkan sebuah keputusan pembentukan gabungan organisasi wanita yakni Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Gerakan ini juga pada akhirnya menjelma menjadi sebuah organisasi pergerakan nasional yang menghendaki cita-cita Indonesia merdeka lepas dari belenggu penjajah kolonial Belanda.

Loading...

loading...

Feeds

BP JAMSOSTEK Sambut Bulan K3 Nasional

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Indonesia memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional pada tanggal 12 Januari sampai dengan 12 Februari setiap tahunnya. …

Sajian Makan Siang Murah Meriah ala Hotel

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Istirahat makan siang menjadi momen yang paling ditunggu, terutama oleh para karyawan perkantoran. Namun waktu yang terbatas, …