Perekonomian Jabar Tetap Lampaui Nasional

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dan Kepala Kantor Perwakilan BI Jabar Doni Joewono (kanan) saat memberi keterangan pers usai Pertemuan Tahunan BI Jabar di Trans Luxury Hotel Kota Bandung (19/12).

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dan Kepala Kantor Perwakilan BI Jabar Doni Joewono (kanan) saat memberi keterangan pers usai Pertemuan Tahunan BI Jabar di Trans Luxury Hotel Kota Bandung (19/12).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2018 disambut baik oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Soalnya, evaluasi yang dilakukan yakin mampu menekan inflasi pada 2019.

Gubernur yang akrab disapa Emil itu pun optimistis, pada 2019 nanti Jabar dengan rencana aksinya dapat mengurangi ketimpangan wilayah. Ia mengakui, Jabar masih banyak yang harus disiapkan seperti akses jalan dan pondasi rel kereta api cepat.

“Bantuan dari Presiden RI, Joko Widodo, Rp1 triliun untuk perbaikan akses dasar, jalur tol dan aktivasi empat jalur. Karena kalau sudah lancar, pengendalian kian mudah,” ujarnya usai menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Jawa Barat di Trans Luxury Hotel, Bandung, Rabu (19/12).

Berperan sebagai konduktor, Emil mengaku begitu menikmatinya, pasalnya karena banyak tantangan baru dan lebih luas yang ia pelajari dalam membangun perekonomian di Jabar.

Ditemui di tempat yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Barat (Jabar), Doni Joewono mengakui, pada 2018 memang penuh tantangan, di tengah upaya mendorong perekonomian domestik, perekonomian global tumbuh tidak merata dan diliputi ketidakpastian.

“Untuk itu, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kita cermati. Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia yang cukup tinggi pada 2018 diperkirakan akan melandai pada 2019,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diprakirakan akan menurun pada 2019, sedangkan di Uni Eropa dan Tiongkok melandai. Sementara itu, tekanan inflasi mulai tinggi di Amerika Serikat, dan cenderung akan meningkat di Uni Eropa dan sejumlah negara lain.

Kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, the Fed, akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Setelah kenaikan tiga kali sebesar 75 bps, The Fed kemungkinan akan menaikkan kembali suku bunga pada Desember 2018 dan tiga kali di 2019.

“Ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets. Ketegangan perdagangan antara Pemerintah Amerika Serikat dengan sejumlah negara termasuk Tiongkok, krisis ekonomi di Argentina serta risiko geopolitik mendorong kuatnya dollar Amerika Serikat dan berdampak pada pembalikan modal asing dari negara Emerging Markets, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, lanjutnya, perekonomian nasional pada 2018 cukup baik, dengan stabilitas yang terjaga dan momentum pertumbuhan berlanjut. Pertumbuhan ekonomi 2018 kami perkirakan mencapai sekitar 5,1 persen yang ditopang kuatnya permintaan domestik. Peningkatan diperkirakan berlanjut pada 2019 sebesar 5,0 persen sampai 5,4 persen.

“Sementara itu, pada 2019, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat diperkirakan tetap lebih tinggi daripada nasional, namun cenderung melambat pada kisaran 5,3 persen sampai 5,7 persen karena dibayangi oleh berbagai tantangan khususnya eksternal,” ucapnya.

Perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama Jawa Barat, yakni Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Tiongkok serta perlambatan volume perdagangan dunia 2019 akan memberikan tekanan yang cukup besar terhadap ekspor. Untuk itu, Jabar perlu mengambil sejumlah langkah untuk menahan kemungkinan perlambatan yang lebih dalam salah satunya dengan meningkatkan program pemerintah yang dapat menjaga daya beli masyarakat.

“Perbaikan kinerja perekonomian nasional disertai oleh upaya penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang aman. Sejumlah kebijakan telah ditempuh meskipun masih memerlukan waktu untuk membuahkan hasil yang nyata. Secara keseluruhan tahun 2018, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap berada di level yang aman di bawah 3 persen PDB,” bebernya.

Meskipun mendapat tekanan, lanjut Doni, nilai tukar rupiah relatif terjaga di 2018 dan bahkan menuju akhir tahun ini cenderung menguat.

“Kami perkirakan nilai tukar rupiah pada 2019 akan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar. Inflasi nasional sepanjang tahun 2018 tetap rendah dan diperkirakan akan berada pada level 3,2 persen pada akhir 2018 dan akan tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5+1 persen di 2019,” ujarnya.

Di Jabar, tambahnya,  memperkirakan inflasi pada akhir 2018 dapat berada pada kisaran titik tengah sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen. Pada 2019, melalui sinergi yang kuat dengan berbabagi pihak, inflasi Jabar diperkirakan juga tetap akan terkendali pada kisaran sasaran nasional.

“Namun hal yang perlu mendapat perhatian adalah inflasi Jawa Barat lebih tinggi daripada nasional dan bahkan tertinggi di pulau Jawa, yang jika dibiarkan tentu dapat berdampak pada penurunan daya beli,” pungkasnya.(nda/nto)

loading...

Feeds

Dinilai Teruji, Brigas Pilih Dukung Jokowi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Joko Widodo dianggap sudah bisa menjaga stabilitas ekonomi dengan baik. Hal itu menjadi salah satu alasan sejumlah …