Kesadaran Warga KM 0 Citarum, Wujudkan Ecopark dan Kampung Biogas

POJOKBANDUNG.com, KERTASARI – Dalam upaya singkronasi program Citarum Harum yang dicanangkan Pemerintah pusat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat (Jabar) terus berupaya merubah pola pikir masyarakat yang berada di hulu sungai Citarum. Hal tersebut dilakukan agar bisa memanfaatkan dan mengelola limbah rumah tangga agar habis di tempat.


Berbagai upaya sudah dilakukan DLH Provinsi Jabar dari memberikan pelatihan mengelola sampah hingga membangun desa berbasis lingkungan. Dari upaya tersebut DLH Provinsi Jabar sudah menciptakan kader-kader unggulan di bidang lingkungan yang bisa di percaya sebagai pioner perubahan di lingkungannya.

Dari upaya yang sudah dilakukan DLH Jabar beberapa desa khususnya wilayah binaan DLH Jabar sudah menunjukan suatu perubahan pola pikir yang baik dalam mengelola lingkungannya. Seperti halnya di Kampung Babakan Desa Neglawangi Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Disana, warga sekitar sedang membuat kampung wisata edukasi berbasis lingkungan.

Fasilitator Eco Village Desa Neglawangi Uus Kusmana menyebutkan saat ini masyarakat Kampung Babakan Sarikandi Rw 10 Desa Neglawangi Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung sudah mulai memilah dan memilah sampah organik dan non organik. Selain itu, wasga sekitar juga saat ini sedang membangun kampung edukasi wisata. Dimana setiap rumah nantinya ada taman yang di hiasi sayuran.

”Kita sedang mengembangkan konsep tani di lahan tidak luas,”katanya saat di jumpai di lokasi, Senin (10/12).

Dia menerangkan, pragram yang sudah dibina oleh DLH Jabar sejak satu tahun terakhir ini, sudah mulai terlihat perubahannya. Salah satu contoh yang menonjol ialan cara pengelolaan sampah yang sudah dipilah. Sampah lingkungan yang berjenis organik mereka kumpulkan di bank sampah sedangkan non organik mereka jadikan pupuk dan di jadikan biopori dimana setiap satu rumah satu biopori.

”Sekarang kita sadar bagai mana kita harus menjaga lingkungan. Kalau lingkungan bersih otomastis kita juga sehat. Di tambah kita juga bisa mendapatkan ekonomi dari sampah dan tanaman sayur yang ditanam di setiap pekarangan rumah,”ucapnya.

Terang dia, dengan adanya konsep seperti ini dimana warga yang semakin peduli terhadap lingkungan sehingga yang awalnya sampah di buang sembaranagn dan terbawa ke sungai Citarum saat ini mereka lebih memilh memanfaatkan sampah menjadi bermanfaat.

”Sekarang pola pikir masyarakat sudah jauh berbeda yang semula memindahkan sampah, sekarang bagai mana menghabiskan sampah dari rumah masing-masing,’’ terangnya.

Sementara itu ketua RW 10 Jajang Supriatna bersyukur dengan adanya pembinaan yang di lakukan DLH Jabar tentang bagai mana mengelola lingkungan. Terang dia setelah adanya sosialisai tersebut, banyak warga yang berbondong-bondong mengelola sampahnya masing-masing, sehingga budaya malu membuang sampah kembali di rasakan di wilayahnya.

“Alhamdulilah setelah adanya Eco Village, setiap rumah di tata dengan rapi, hidup warga jadi rapi,”ujarnya.

Dia juga menyebutkan, dengan adanya program seperti ini kampungnya ada banyak perubahan. Tidak hanya dari segi lingkungan yang semakin bersih. Tapi juga ada nilai ekonomis yang bisa terjadi. Karena nantinya Eco park ini atau kampung wisata edukasi ini bisa mensuplai sayuran dan juga meyediakan home saty untuk wisatawan yang berkunjung.

”Pemerintah sudah membuatkan programnya tinggal kita warganya yang harus bebenah,”ucapnya.

Tidak jauh dari kampung Babakan sari, warga di Kampung Citawa  Desa Tarumajaya sudah mengelola lingkungannya dengan sangat baik. Dimana di Kampung Citawa yang biasanya membuang limbah atau kotoran sapinya langung kealiran sungai Citarum. Saat ini mereka sudah mengelola kotoran sapi menjadi biogas yang di alirka kepada sejumlah rumah warga.

“Awalnya kalau buang limbah langsung ke Citarum tapi sejak tahun 2017, ada pembinaan dari DLH kita kelola dan jadikan biogas,”ucapnya.

Saat ini jelas dia sudah ada 40 alat biodigester yang menampung puluhan kilo kotoran sapi yang di olah menjadi biogas. Meski belum semua rumah yang bisa dialiri biogas ini karena terkendala alat dan dana.

”setidaknya kita sekarang tidak buang koktoran lagi ke sungai, walau pun sebagian juga suka dipake jadi pupuk,” ujarnya.

Selain dibikin biogas air hasil pengelolaan pun saat ini di manfaatkan warga sebagai pakan cacing. Sehingga sangat sedikit sekali warga sekitar membuang kotoran sapi ke sungai.

”Untuk tambah-tambah kita juga ternak cacing, yang pakannya dari air hasil pengelolaan biogas,”pungkasnya.

 

(adv/ipn)

Loading...

loading...

Feeds

Maksimalkan Potensi UMKM dengan Evermos

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi dan UMKM menjalin kerja sama dengan e-commerce untuk meningkatkan penjualan para …

Telkomsel Gelar Dunia Games League 2021

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Telkomsel terus bergerak maju menegaskan komitmennya sebagai enabler dalam ekosistem esports Tanah Air melalui penyelenggaraan Dunia Games …