RSGMP Unjani Beri Edukasi Cara Merawat Gigi

Proses pembersihan karang gigi terhadap seorang pasien di Rumah Sakit Gigi Mulut Pendidikan (RSGMP) Unjani.  ( Foto : WHISNU PRADANA/RADAR BANDUNG )

Proses pembersihan karang gigi terhadap seorang pasien di Rumah Sakit Gigi Mulut Pendidikan (RSGMP) Unjani. ( Foto : WHISNU PRADANA/RADAR BANDUNG )

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Pola hidup masyarakat Indonesia yang malas merawat kesehatan gigi menyebabkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat saat ini masih memprihatinkan.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, indeks karies gigi orang Indonesia dari saru orang dewasa, rata-rata ada 7 gigi yang mengalami kerusakan.

Pada anak usia 15 sampai 20 tahun, dari satu anak ada 3 gigi yang bermasalah. Sedangkan untuk anak usia 12 tahun ke bawah, hanya 2 gigi yang bermasalah pada setiap anak.

“Berdasarkan DMF-T atau indeks karies gigi, untuk orang dewasa masuk kategori sangat mengkhawatirkan. Dari 32 jumlah gigi orang dewasa, mereka mengalami kerusakan sekitar 7 gigi,” kata Ketua Asosiasi Fakultas Dokter Gigi Indonesia (Afdokgi), Dr. Nina Djustiana, drg. M.Kes, saat ditemui di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Unjani Kota Cimahi, Kamis (6/12/2018).

Dia mengatakan, yang jadi fokus edukasi perawatan kesehatan gigi dan mulut yakni anak-anak. Sedangkan orang dewasa fokus pada perawatan lanjutan. Untuk anak-anak itu perawatan dan pencegahan. Kalau orangtua biasanya setelah mendapat tindakan seperti cabut dan pasang gigi, scalling dan pembersihan, ekstraksi gigi, atau perawatan ortodontik, baru mereka rajin merawat gigi.

“Jadi yang terpenting adalah pencegahan,” ucapnya

Penyebab penyakit gigi yang dialami dan dikeluhkan masyarakat Indonesia biasanya akibat rendahnya kesadaran merawat gigi, yang terakumulasi menjadi penyakit gigi dan mulut.

“Misalnya di pedesaan, itu memang mereka sikat gigi, hanya saja kadang tidak sadar cara sikat gigi yang baik itu seperti apa. Tidak peduli bentuk sikat giginya padahal sudah keriting bulu sikatnya, bahkan kita menemukan yang gagangnya patah dan bulunya kotor. Itu bahaya bagi kesehatan mulut dan gigi,” jelasnya.

Dia mengaku jika edukasi tentang pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut belum merata antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.

“Untuk edukasinya memang belum merata, karena banyak kawasan yang belum terjamah. Resikonya sama, karena kebiasaan orang itu kan sama-sama malas sikat gigi kalau sebelum tidur,” tegasnya.

Sementara drg. Rina Putri Noer Fadillah, Ketua Pelaksana Bulan Kesehatan Gigi Nasional di RSGMP Unjani, mengatakan jika masyarakat malas memeriksakan gigi karena takut ataupun harganya yang mahal.

Untuk itu, pada BKGN kali ini RSGMP Unjani kebanjiran masyarakat yang ingin memeriksakan gigi dan mendapatkan pelayanan secara cuma-cuma.

“Kita kedatangan 1000 orang yang ingin memeriksakan gigi dan mendapatkan pelayanan. Kalau hari biasanya kan hanya sedikit. Mungkin mereka takut, malas, atau syok karena harga perawatan dan pemeriksaan gigi yang cenderung mahal,” tuturnya.

Masyarakat yang datang ke RSGMP Unjani kebanyakan mengeluhkan sakit gigi yang sudah lama diidap, karies gigi, ataupun ingin mencabut gigi.

“Ya memang keluhannya penyakit gigi pada umumnya. Rata-rata mereka memiliki karies gigi, bolong giginya, ada yang minta dicabut juga. Pentingnya menjaga kesehatan gigi berpengaruh pada kondisi kesehatan secara umum. Misalnya seorang punya karies gigi yang nantinya bisa menjadi abses dan mengakibatkan penyakit sistemik lainnya,” tandasnya. (dan)

loading...

Feeds

rs

Dewan Sorot Kekosongan Pimpinan Enam RS

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat bakal mengagendakan pertemuan dengan Pemeritah Provinsi Jawa Barat, terutama …
regulasi

Regulasi Rumit Ganggu Harga Pangan

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Galuh Octania mengingatkan pemerintah terkait harga pangan. Menurutnya, bahwa regulasi …

Saya Sempat Ngerem, tapi Gak sampai

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Salatiga-Boyolali kemarin dini hari. Tepatnya di Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Semarang.

Kemendikbud Siapkan Rotasi Guru

Pendekatan zonasi tidak hanya diterapkan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa pendekatan serupa …