Makan 80 Kantong Plastik, Paus Pilot Tewas di Thailand

POJOKBANDUNG.com – Seekor paus pilot tewas di Thailand Selatan setelah memakan 80 kantong plastik seberat 17 kilogram. Paus itu mati setelah pihak konservasi laut menghabiskan lima hari berjuang untuk menyelamatkan paus pada Juni lalu. Dilansir dari Forbes beberapa waktu lalu paus pilot itu ditemukan di sebuah kanal dekat Songkhla, sebuah kota di Thailand Selatan. Ini terjadi usai Departemen Sumber Daya Laut dan Pesisir melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan paus dan membuang plastik yang dicernanya.


Sayangnya, paus itu mati. Ia tidak mampu mencerna atau membuang kantong plastik. Selama otopsi setelah kematian paus,Departemen Sumber Daya Laut dan Pesisir menemukan 80 kantong plastik bersarang di perutnya. Selama upaya penyelamatan, Departemen hanya bisa memancing paus itu untuk memuntahkan 5 kantong plastik.

Paus pilot biasanya makan cumi-cumi, gurita, ikan keci. Paus itu kemungkinan besar mengira kantong plastik yang mengambang adalah makanan. Lalu menelan kantong plastik tersebut hingga membuat saluran pencernaan ikan paus tersumbat.

paus pilot, paus, paus makan plastik, plastik,
Sampah plastik mencemari lautan dan menjadi makanan binatang laut (The Thaiger)

Thailand dianggap sebagai salah satu negara terburuk di dunia karena membuang plastik ke laut, membuang sekitar 1 juta ton plastik ke laut. Karena populasi dan penggunaan plastik terus meningkat secara global, ini menjadi isu lingkungan yang semakin penting. Kasus kematian paus di Thailand akibat makan plastik terjadi sebelum tewasnya paus di Wakatobi akibat makan plastik.

Sudah banyak binatang tewas makan limbah plastik akibat buang plastik sembarangan. Apalagi produksi plastik global terus tumbuh. Risiko plastik yang berakhir di lautan semakin besar.

Studi telah menemukan tingkat tinggi mikroplastik dalam ikan yang kita konsumsi. Ketika plastik dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, ia dicerna oleh ikan dan kehidupan laut yang kecil, hanya untuk dimakan oleh ikan yang lebih besar dan plastik yang sepenuhnya dipadatkan di dalam ikan yang kita makan.

Tidak jelas sejauh mana keberadaan mikroplastik dalam makanan laut berdampak pada kesehatan. Ini sangat sulit untuk diuji karena sulit untuk menemukan kelompok sampel yang belum mencerna makanan laut dengan mikroplastik untuk baseline.

Pada tahun 2050, diperkirakan kita akan memproduksi tiga kali lebih banyak plastik seperti yang dihasilkan beberapa tahun yang lalu pada tahun 2014. Sementara itu, sebenarnya sebagian besar plastik berpotensi didaur ulang. Sekitar 95 persen dari plastik yang diproduksi adalah sekali pakai, yang berarti dibuang setelah digunakan dan tidak pernah didaur ulang.

(ina)

Loading...

loading...

Feeds

Setahun Zona Merah di Indonesia

PADA 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Depok, Jawa Barat, terpapar virus mematikan Covid-19. Setelah pengumuman menyeramkan itu, suasana …

Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Bandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Vaksinasi Covid-19 menjadi salah satu kunci Indonesia untuk keluar dari situasi pandemi. Program tersebut membutuhkan partisipasi dari …

46 Warga Kampung Jati Dievakuasi

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI – Aktivitas bencana pergerakan tanah yang memprakporandakan tiga perkampungan penduduk di wilayah Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, kian meluas …

Korban Banjir Terjangkit Ragam Penyakit

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Banjir yang sempat melanda wilayah utara (Pantura), Subang menimbulkan dampak penyakit bagi warga, yakni penyakit gatal pada …

Bakti Sosial Dosen untuk Masyarakat

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Sepuluh dosen Program Studi Pendidikan Guru (PG) PAUD IKIP Siliwangi Bandung melaksanakan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) …

Sumber Bantuan Perbaikan RTLH di Cimahi

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) di Kota Cimahi segera dilaksanakan. Rencana pelaksanaannya di bulan Maret atau …