Kisah Warga Pasirluyu Kota Bandung, Jadi ‘Duren’ Gegara Gayung

Ilustrasi

Ilustrasi

Tak terhitung berapa kali mereka melakukan hubungan badan. Tiga bulan kemudian TL dinyatakan berbadan dua. Sesuai janji, GM siap menanggung perbuatannya dengan menikahinya pada 2010 silam.


“Masa pacaran kurang lebih satu tahun. Saat tahu TL hamil, saya tidak panik, biasa aja. Ya, kami berdua akhirnya menikah. Saat itu, saya usia 15 tahun dan TL baru 14 tahun,” ucap GM.

Pernikahan GM dan TL diakui legalitasnya oleh negara. Beberapa syarat untuk pemberkasan pernikahan bahkan dikeluarkan langsung oleh penghulu/ KUA. Meski secara umur belum mencukupi sayarat  kependudukan, namun itu bukan hal sulit untuk dimanipulasi.

“Secara legalitas negara, pernikahan saya sah. Untuk masalah dibawah umur langsung bayar aja ke penghulu dengan harga Rp1,5 juta, itu tahu beres. Soal data atau syarat sah usia nikah juga diatur oleh penghulu, saya dari kelahiran 1995 menjadi 1991, semua dilakukan agar bisa melangsungkan pernikahan secara sah negara,” ungkapnya.

Usia kandungan TL yang semakin membesar membuatnya harus keluar dari sekolah. Musababnya sekolah tempat ia mengenyam pendidikan tidak memperkenankan siswa sudah menikah bahkan hamil.

“Istri saya (TL) keluar dari sekolah aja ibu rumah tangga. Sedangkan saya menyelesaikan sekolah hingga tamat SMA,” jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga GM harus banting tulang. Jadi kuli bangunan hingga menjadi pedagang gorengan ia lakoni. Dengan gaji tak cukup besar keduanya menikmati masa-masa pernikahan.  “Pekerjaan apapun saya lakukan, serabutan lah,” singkat GM.

Selama mengarungi bahtera rumah tangga GM mengakui keluarga kecilnya sangat bahagia. Apalagi kehadiran si mungil perempuan menjadi pelengkap keharmonisan keduanya saat itu. Namun, empat tahun berselang rumahtangganya harus berantakan karena hal sepele. Saat itu, mereka berdua sedang bercanda di kamar madi dan memperebutkan gayung (alat untuk mengambil air,red).

Loading...

loading...

Feeds