Saritem Ditutup, Aktivitas ‘Kupu-kupu Malam’ Sulit Dijangkau

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Komisi Penanggulangan (KPA) AIDS Kota Bandung kesulitan menjangkau kegiatan seks yang marak terjadi. Pesatnya teknologi sebagai sarana penghubung hasrat birahi dan ditutupnya lokalisasi Saritem, dituding menjadi faktor penyebabnya.

Hal itu diungkapkan Skretaris KPA Kota Bandung, Bagus Rahmat Prabowo. Menurut Bagus
pihaknya kesulitan menjangkau kegiatan seks di Kota Bandung lantaran adanya koneksi internet yang sulit dijamah. Selain itu, sejak 2007 silam pasca-lokalisasi Saritem ditutup Pemkot Bandung proses pendataan untuk data penyakit HIV/ AIDS semakin sulit.

“Sejak ditutupnya Saritem oleh Pemkot Bandung sebagai lokalisasi prostitusi, sekarang prostitusi terjadi secara online, itu cukup merepotkan juga bagi kami untuk pendataan” ucap Bagus, Rabu (14/11/2018).

Bagus mengungkapkan, kondisi seperti itu malah menyuliktan KPA Kota Bandung. Pasalnya, untuk sosialisasi dan penjangkauan tak bisa dilakukan dengan mudah karena sifat transaksi seks yang terselubung.

“Menyasar kegiatan yang di internet yang susah. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang kami terus upayakan untuk menyasar kegiatan online terselubung,” tuturnya.

Oleh karena itu, KPA telah membentuk pokja untuk mengatasi fenomena HIV/AIDS melalui berbagai strategi. Ada lima Pokja yang sudah dilantik yakni Pokja Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), Pokja Remaja, Pokja Perawatan, Dukungan dan Pengobatan; Pokja Pengurangan Dampak Buruk NAPZA dan Pokja Pencegahan HIV melalui Transmisi Seksual.?

“Pokja ini terdiri dari berbagai ragam kelompok, komunitas dan profesional,” imbuh Bagus.?

Untuk diketahui, penyebaran virus HIV/AIDS di Kota Bandung mendapat perhatian serius. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, kasus HIV/AIDS di Kota Bandung terus meningkat setiap tahun. Hingga Desember 2017, tercatat ada 4.032 kasus, terdiri dari 2.171 kasus ditemukan HIV dan 1.865 kasus AIDS.

Fakta ini cukup memprihatinkan mengingat Kota Bandung beresiko menjadi generalized epidemic. Penularan terjadi pada populasi masyarakat umum. Gejala tersebut terlihat dari tingginya peningkatan kasus HIV pada ibu rumah tangga, yakni rata-rata 40 kasus pertahun dengan mayoritas tertular dari pasangan. Hingga akhir tahun lalu, telah ditemukan 518 ibu rumah tangga dengan HIV positif.

loading...

Feeds

Ini Varian Kosmetik Baru Marcks’ dan Venus

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemilihan produk kosmetik sebaiknya mempertimbangkan segi kecantikan dan kesehatan. Inilah yang mendorong PT Kimia Farma (Persero) Tbk …