Polda Jabar Kewalahan Cari Pelaku Pembawa Bendera HTI

Bendera bertuliskan tauhid yang pernah dikibarkan saat aksi damai pada 2017 lalu.

Bendera bertuliskan tauhid yang pernah dikibarkan saat aksi damai pada 2017 lalu.

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kontroversi pembakaran bendera yang disinyalir bendera tauhid yang dilakukan oknum Banser, kini masuk di babak baru. Polisi tengah memburu seorang pria yang membawa bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berujung dibakar di Kabupaten Garut, Jabar. Polisi bergerak mencari pria tersebut.


“Ya satu tim bergerak mencari, saya katakan penyusup tadi yang tiba-tiba datang tidak sesuai komitmen awal,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat Kombes Umar Surya Fana, Rabu (24/10).

Umar mengungkapkan keanehan pria tersebut yang tiba-tiba datang saat upacara peringatan hari santri nasional (HSN) yang digelar di Alun-alun Limbangan, Garut, Senin (22/10). Dia datang sambil mengibarkan bendera yang di luar kesepakatan. Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi, bendera itu merupakan bendera HTI.

Saat ditanya oleh pihak panitia, sambung Umar, pria tersebut mengaku tak membawa identitas lengkap. Pria tersebut, menurut dia, hanya mengaku berasal dari Cibatu Garut.”Laki-laki tersebut sangat minim informasinya sedang dicari siapa dia, apa tujuannya,” kata Umar.

Menurut dia, kesepakatan pelarangan membawa bendera HTI tersebut dilakukan sebelum acara digelar. Panitia dan peserta dari 3 kecamatan di Garut yakni Limbangan, Leuwi Goong dan Malangbong sepakat agar tidak membawa bendera lain selain merah putih.

Umar menduga pria berciri-ciri berpeci dan berkain hijau tersebut berasal dari luar 3 kecamatan sesuai undangan HSN tersebut. Sehingga pria tersebut diduga tak mengetahui adanya kesepakatan tersebut.

“Kalau dia datang dari tiga kecamatan tadi, pasti ada yang kenal. Masalahnya enggak ada satupun yang kenal. Sehingga kita identifikasi orang ini bukan dari tiga kecamatan itu,” kata Umar.

“Kalau yang datang orang-orang yang paham kesepakatan itu, akan sepakat melaksanakan kesepakatan itu. Pertanyaan timbul, kenapa ada satu orang di luar tiga kecamatan di situ. Ya dibuktikan dia enggak tahu ada kesepakatan itu. Dia bawa bendera HTI, bukan cuma bawa tapi dikibarkan di depan massa. Banser di kepanitiaan sebagai tenaga keamanan, sudah benar tindakan Banser sesuai kesepakatan di awal,” tutur Umar.

Menurut Umar, pria tersebut sudah diinterogasi oleh panitia di lokasi kejadian. Namun lantaran tidak ada identitas saat diminta, polisi kesulitan memperoleh informasi lengkap soal pria tersebut.

“Kalau dia datang dari tiga kecamatan tadi, pasti ada yang kenal. Masalahnya enggak ada satupun yang kenal. Sehingga kita identifikasi orang ini bukan dari tiga kecamatan itu,” ucap Umar.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Barat, Rafani Akhyar menghimbau masyarakat agar tidak terpengaruh sehingga menambah keruh keaadaan.

“Jangan ada reaksi berlebihan harus tahan itu sampai suasana kondusif,” ujarnya di Jalan R.E Martadinata, Kota Bandung, Rabu (24/10)

Penegakan hukum, kata dia, tetap wajib dilakukan dan harus tunggu nanti, jika pelaku benar sudah ditangkap biar polisi menyelidiki lebih dalam sehingga semua bisa transparan. “Pasti akan tau bendera dibawa oleh siapa nanti akan di tuntaskan,”ungkapnya.

Menurutnya, jika tidak dipelihara kondusifitas bisa merdampak kemana-mana dan ini juga masalah sesama intern umat islam sehingga jangan teris berkepanjangan. “Ini kan inten umat Islam dan mayoritas di Jawa Barat kan umat islam. ini berarti  harus kondisif,” jelasnya.

Kemudian ia juga menyinggung untuk netizen bisa berbuat nyaman dengan tidak membuat status atau postingan yang bersifat menpeovokasi dan menahan diri dari perbuatan tersebut. “Fatwa MUI tentang medsosiah sudah di sampaikan dan harus teliti kembali,” tandasnya.

Sementara itu, tiga pelaku pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut minta maaf. Mereka membakar bendera berlatar hitam dengan tulisan putih itu karena menganggap bendera itu merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang sudah dilarang di Indonesia.

“Di sini saya ingin jelaskan, tidak banyak. Pertama, peristiwa pembakaran bendera yang diklaim bendera tauhid itu merupakan respons spontanitas kami. Tidak ada kaitannya sedikit pun dengan kebijakan Banser,” kata salahsatu pelaku.

Ia menjelaskan bendera yang dibakar merupakan bendera yang terlarang. “Yang kedua, bendera yang kami bakar itu ketika HSN kemarin itu merupakan bendera yang terlarang oleh pemerintah, yaitu bendera HTI,” katanya di Mapolres Garut, Selasa malam (23/10).

Pernyataan pelaku ini sebelumnya juga sudah disampaikan oleh Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil . Menurutnya aksi pembakaran itu karena adanya provokasi berupa pengibaran bendera berkalimat tauhid itu di hari santri.

Meski begitu ia menyayangkan aksi yang dilakukan anggota Banser itu. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan protap.

“Saya menyayangkan atas apa yang dilakukan teman-teman Banser di Garut. Protap (prosedur tetap) di kami tidak begitu. Protap yang sudah kami instruksikan, kalau menemui lambang atau simbol apa pun yang diidentikkan dengan HTI, agar didokumentasikan lalu diserahkan ke kepolisian, bukan dibakar sendiri,” katanya.

 

(azs)

Loading...

loading...

Feeds