Oknum Dosen UNLA Diduga Lecehkan Mahasiswinya, Mahasiswa Tuntut Pemecatan

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Salah seorang oknum dosen Universitas Langlangbuana (UNLA) dituding melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswinya. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan pun bereaksi dengan melakukan unjuk rasa di depan kampusnya, Rabu (24/10/2018).


Mereka mendesak rektor dan yayasan untuk memecat salah satu dosennya, karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswinya.

“Kami mendesak agar dosen tersebut diberhentikan dari jabatannya sebagai wakil rektor dan sebagai tenaga pendidik,” ujar Bahrun, Ketua organisasi kemahasiswaan UNLA, Kamis (25/10/2018).

Bahrun membeberkan, kasus tersebut bermula saat mahasiswi yang sudah di tingkat akhir itu hendak menandatangani matrik perbaikan sidang akhir di ruangan sang dosen. Kemudian, setelah menandatangani surat tersebut, keduanya berbincang-bincang.

“Dosen itu melakukan pelecehan seksual. Kasus ini sudah dimediasi dengan difasilitasi oleh Dekan di kampus itu. Pada mediasi itu, (dosen) sudah mengakui perbuatannya dengan berdalih tidak memiliki niat apapun dan semata-mata hanya bentuk perhatian sebagai orang tua pada anak,”  papar Bahrun.

Namun pada mediasi itu, kata Bahrun, meski dosen sudah mengakui perbuatannya, tidak ada sanksi diberikan kampus kepada dosen tersebut.

“Menurut kami, tindakan dosen di ruangannya dan hanya berdua dengan alasan apapun itu termasuk tidak wajar,” tandasnya.

Ia mengatakan, ini soal kepantasan karena yang bersangkutan adalah wakil rektor, sekaligus dosen. “Tidak pantas melakukan hal-hal seperti itu pada mahasiswinya,” ujar Bahrun.

Sehingga, berdasarkan alasan tersebut, pihaknya menuntut yayasan dan rektorat kampus untuk memberhentikannya sebagai tenaga pendidik.

“Karena tidak menjunjung tinggi etika, norma dan agama sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Guru dan Dosen,” ujarnya.

Sementara itu, kata dia, pada saat unjuk rasa juga tengah digelar mediasi antara rektorat, dekan dan yayasan bersama dosen dan mahasiswinya.

“Tapi pertemuan itu tidak menghasilkan apapun. Fakta bahwa dosen itu sudah mengakui perbuatannya, tidak disertai sanksi yang tegas oleh rektorat,” pungkasnya.

 

(ard)

 

Loading...

loading...

Feeds