Waduh…Petani Jabar Berbondong-bondong Tinggalkan Pertanian

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Jumlah petani di Jawa Barat terus menurun dari tahun ke tahun. Petani yang merupakan ujung tombak dari penghasil beras semakin ditinggalkan oleh masyarakat karena minimnya lahan dan prospek yang kurang menjanjikan.
Justru 45 persen lahan pertanian di Indonesia berada di tanah Jawa Barat, oleh karena itu perum BULOG yang fokus mengurus ketersediaan pangan melakukan berbagai upaya agar pekerjaan ini bisa kembali diminati.
Menurut Sekretaris Perusahaan Perum BULOG, Siti Kuwati, dunia pertanian hampir ditinggalkan oleh petani karena berbagai faktor, seperti pertanian dianggap tidak mampu menopang masa depan, akses lahan dan modal terbatas, serta minimnya berbagai dukungan lain bagi generasi muda.
“Petani satu per satu beralih profesi dan mencari pekerjaan lain karena dirasa sekarang sudah tidak ada prospek kerja lagi ke depannya, padahal petani ujung tombak dari ketersediaan beras bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya kepada Pojokbandung.com di Imah Seniman, Jalan Sersan Masturi, Rabu (17/10/2018).
Berdasarkan sensus pertanian 2013 terdapat 26,14 juta rumah tangga tani dan diperkirakan sekarang turun tersisa 24,12 juta rumah tangga tani. Hal ini memprihatinkan karena justru banyak negara urunan sektor pertanian pada pertumbuhan ekonomi cukup besar.
“Padahal, jika pertanian dikelola dengan manajemen yang baik, penerapan teknik budidaya yang benar, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kebutuhan pasar baik global maupun lokal dan penerapan teknologi yang tepat, akan memberikan peningkatan nilai ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan yang selama ini dijalankan,” jelasnya.
Selain itu data terbaru menunjukkan dari tahun 2010-2017 terjadi penurunan persentase sebesar 1,1 persen. Tahun 2010 sebanyak 42,8 juta jiwa masyarakat masih bergelut dengan profesi petani, namun di tahun 2017 jumlah menurun menjadi 39,7 juta jiwa. Para anak petani pun tidak melanjutkan pekerjaan orang tuanya, mereka justru memilih untuk urbanisasi ke perkotaan karena masih dianggap memiliki masa depan yang lebih baik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Februari 2017, tercatat penyerapan tenaga kerja di pertanian, perikanan dan perkebunan sebanyak lebih dari 39 juta jiwa atau 31,8 persen. Angka ini menjadi tertinggi dibandingkan sektor perdagangan yang hanya 23 persen, jasa sebanyak 16 persen, industri sebesar 13 persen dan kostruksi sekitar 5 persen.
Oleh karena itu, BULOG terus berupaya agar generasi muda mau bertani dan menggaungkan lagi nama Indonesia khususnya Jawa Barat sebagai ‘Lumbung Padi’. “Saya selalu bilang ke siswa-siswa SMA/SMK bahwa menjadi petani itu keren dan bisnis pertanian itu menggiurkan. Tentu saja hal itu didukung dengan teknologi-teknologi masa kini sehingga kesejahteraan mereka jauh lebih baik dibandingkan zaman dulu,” sambungnya.
Siti mengharapkan peran generasi muda untuk mengisi kekosongan tersebut dengan semangat dan pendekatan baru. Generasi muda bisa menjadi agen perubahan untuk memenuhi kemandirian pangan di Indonesia sehingga tidak ada lagi kasus kelaparan (zero hunger) di tahun 2030. Sejalan disini, visi pertanian Indonesia adalah pencapaian sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045.
Sosialisasi terhadap generasi muda yang dilakukan BULOG salah satunya adalah menggelar workshop dengan tema ‘Gerakan Revolusi Industri 4.0’ yang dicanangkan pada World Government Summit 2018 dan sudah diterapkan di negara-negara maju di Utara dan sebagian Selatan (Australia). Materi yang diberikan pada workshop ini disamping pengenalan Pertanian 4.0 juga panca petani, urban farming, microgreens, hidroponik, dan pembangumam karakter.
(fid)

loading...

Feeds