Gay Cimahi Ikut Kontes Gay di Bali?

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Cimahi, mengakui jika populasi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Kota Cimahi mencapai ratusan orang.

Menurut Pengurus KPA Kota Cimahi, Kin Fathuddin, para LGBT itu kerap melakukan komunikasi transaksional melalui media sosial atau langsung bertatap muka, salah satunya di Alun-alun Kota Cimahi.

“Berdasarkan data tahun 2017, Lelaki Seks Lelaki (LSL) itu sampai 705 orang. Mereka itu termasuk yang biasa melakukan seks dengan waria juga,” ungkap Kin saat ditemui di Sekretariat KPA Kota Cimahi, Jumat (12/10/2018).

Namun, ia tidak mengetahui apakah ada perwakilan dari kelompok gay di Kota Cimahi yang terbang ke Bali untuk mengikuti Kontes Gay Nusantara.

Belakangan ini, masyarakat dikagetkan dengan adanya informasi mengenai Kontes Gay Nasional di Bali dan penggerebekan pesta gay di Jakarta.

“Biasanya mereka bergerak secara diam-diam. Kita juga tidak tahu apakah ada atau tidak yang kesana. Tapi kalau melihat kemungkinan, sepertinya tidak ada,” bebernya.

Dikatakannya, populasi LGBT di Kota Cimahi juga ada yang berasal dari kalangan pelajar. Rata-rata populasi usia LGBT di Kota Cimahi berada dikisaran usia 15 tahun sampai 24 tahun.

“Ada juga dari pelajar, tapi tidak banyak. Untuk populasi 15 tahun sampai 24 tahun itu persentasenya sekitar 30 persen. Bisa saja menular, tapi kembali lagi ke personalnya masing-masing,” tuturnya.

Ditelusuri di laman facebook, ada sebuah akun yang mengatasnamakan komunitas Gay Cimahi Bandung, dengan anggota 700 orang lebih namun tak terlihat ada aktivitas di akun media sosial tersebut.

Dari segi kesehatan, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Romi Abdurrahman, mengatakan penularan Virus HIV/Aids di Kota Cimahi didominasi oleh pergaulan seksual sesama jenis.

Menurutnya, kasus penggerebekan pesta gay di Jakarta dan kontes gay nusantara menjadi salah satu indikasinya. Hal tersebut lantaran mereka memiliki kecenderungan kerap berganti pasangan dan tak aman ketika berhubungan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi, penderita HIV-Aids pada tahun 2005 sampai 2016 dengan faktor risiko hubungan seksual sebanyak 307 kasus. Sedangkan untuk 2017, mulai dari Januari sampai April, telah dikonfirmasi 313 kasus HIV/Aids akibat hubungan seks.

“Sekitar 10 tahun yang lalu, kasus HIV/Aids tertinggi itu disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang bergantian. Untuk sekarang justru berbalik. Dibandingkan akibat jarum suntik, HIV/Aids tertinggi itu akibat hubungan seks,” ungkap Romi.

Dia melanjutkan, jika dirinci, kasus penularan HIV/Aids dari ibu ke anak sebanyak 18 kasus atau sebesar 6 persen, penularan akibat perilaku transeksual sebesar 60 persen, dan yang melalui jarum suntik sebesar 34 persen.

“Untuk penderita laki-laki sebesar 67 persen dan perempuan 27 persen serta waria 6 persen. Peningkatan kasus penularan kasus HIV/Aids di Kota Cimahi hampir seluruhnya lewat hubungan seksual,” paparnya.

Penularan virus HIV sebenarnya bukan karena masalah orientasi seksual seseorang, namun lebih menitikberatkan pada seperti apa perilaku orang tersebut dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangannya ataupun.

Di Indonesia angka heteroseksual yang terkena virus HIV lebih tinggi ketimbang mereka yang ada dalam kategori LGBT. Namun demikian, di Kota Cimahi dan Bandung Raya, tren penularan virus HIV justru lebih banyak melalui LGBT, khususnya pada kategori gay dan waria atau LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki).

“Ironisnya, banyak mereka yang LGBT khususnya gay dan waria, yang terkena HIV/Aids ini. Sehingga dulu ada singkatan AIDS itu ‘Akibat Intim Dengan Sesama’, karena pada awalnya menyebar di kalangan gay,” terangnya.

 

(cr1)

 

loading...

Feeds