Video Sadis Pengeroyokan Haringga Sirila Masih Bertebaran di Internet

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sejak Senin (24/9/2018) hingga Rabu (26/9/2018) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengaku telah menghapus 450 URL, terkait video pengeroyokan suporter Persija  Haringga Sirila (Alm) oleh oknum suporter Persib. Namun, kenyataannya video sadis itu masih banyak yang beredar di YouTube dan media sosial.


Ketika ditelusuri lebih lanjut, kami membuka aplikasi Google, video tersebut masih seliweran di media sosial dan YouTube tanpa sensor. Sekitar puluhan URL masih menyajikan unggahan video pembunuhan Haringga.

“Video itu sudah di-take down, sampai saat ini sudah 450 URL yang berkaitan,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Menurut Menkominfo, adanya video tersebut sangat meresahkan masyarakat. Sebab, secara tidak langsung orang-orang diajarkan untuk melakukan hal yang sama.

Untuk memperjelas situasi yang terjadi, Rudiantara direncanakan bertemu dengan beberapa pihak terkait, salah satunya dengan mantan Direktur Marketing dan Promosi PT Persib Bandung Bermartabat, M. Farhan.

Berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Rudiantara, disebutkan ada motif bahwa ada oknum suporter yang memanaskan suasana untuk melakukan tindakan menjurus kriminal.

“Misalnya suporter klub A harus berani gebukin, lalu ada klub yang lain viralin, itu baru suporter jagoan. Itu kan nggak bener. Maka dari itu saya mau ketemu dengan Farhan (untuk memastikan informasi tersebut-red),” tuturnya.

“Ini kebetulan yang punya informasi itu, bukan karena Persib, tapi karena kenal Farhan,” kata dia.

Penindakan tak hanya di dunia maya, di mana sejauh ini ditemukan 450 URL yang berisikan video pengeroyokan suporter ini. Tetapi juga penindakan dilakukan di dunia nyata, yakni dengan melibatkan Kepolisian.

“Kalau memang ada modus begitu, terus Polisi masuk ke sana, itu bisa ke arah kriminal itu,” ungkap dia.

Menurut psikiater, dr Andri, SpKJ, menjelaskan inisiatif memvideokan bisa dilatarbelakangi oleh banyak kemungkinan. Salah satunya, mungkin situasi tidak memungkinkan untuk memberikan pertolongan.

“Saya rasa dia yang merekam kejadian tersebut juga takut kalau menolong. Karena kan amuk massa yang seperti itu bila berbuat sesuatu yang di luar daripada kondisi yang terjadi malah kita yang kadang-kadang terkena,” jelas dr Andri

Loading...

loading...

Feeds