Ngakunya Mau BAB, Gadis 18 Tahun Ini Lahirkan Bayi di Kamar Mandi

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Hingga pertengahan tahun 2018, di wilayah Cimahi Selatan terjadi dua kasus pembuangan bayi. Kasus pertama terjadi pada bulan April lalu, ketika seorang wanita berinisial S yang masih berusia 18 tahun, tega menghilangkan nyawa buah hatinya dan membuangnya ke genting rumah warga.

Terbaru, kasus serupa kembali terjadi pada bulan September 2018 ini. Lagi-lagi pelakunya merupakan seorang wanita muda, yang baru lulus SMA, berinisial ST, berusia 18 tahun.

Hampir sama dengan ST, bayi yang dikandungnya merupakan hasil hubungan terlarang dengan sang kekasih, yang tak mau bertanggung jawab sehingga terpaksa dibuang atau bahkan dihilangkan nyawanya.

ST, yang diketahui merupakan warga asal Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, kedapatan melahirkan bayi hasil hubungan gelapnya tanpa bantuan orang lain di kontrakannya, di Jalan Gempol Asri, RT 01, RW 35, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan.

Diungkapkan oleh Kapolsek Cimahi Selatan, AKP Sutarman, saat ditanya oleh seorang Polwan Polsek Cimahi Selatan, ST, tak berniat membuang bayi yang dilahirkannya.

Sutarman mengungkapkan, awal penemuan bayi itu sendiri terjadi saat ST kedatangan ayahnya. ST yang mengalami kontraksi, lalu pamit untuk ke kamar mandi dengan alasan perutnya mulas dan ingin buang air besar.

“Saat itulah dia melahirkan, dan meninggalkan bayinya. Dia sempat meminta temannya untuk mengambil bayi tersebut, namun keburu ketahuan warga,” ujar Sutarman saat ditemui di Mapolsek Cimahi, Selasa (25/9).

Lantaran mendapati ada bayi di kamar mandi, orangtua ST dan warga lantas membawa bayi tersebut ke bidan terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.

ST sendiri saat ini masih terbaring di RS MAL Cibaligo, akibat pendarahan pascamelahirkan bayinya. Meskipun terbukti membuang bayinya, Sutarman mengaku dengan alasan kemanusiaan ST tidak ditahan atau ditetapkan sebagai tersangka, dan hanya dikenakan wajib lapor seminggu sekali.

“Pertimbangannya, ekonominya pas-pasan, bayinya masih butuh perawatan sang ibu (ASI), dan ada jaminan dari orangtuanya jika ST tidak akan melarikan diri dan menghambat penyelidikan,” ujarnya.

Sutarman menyebutkan dalam waktu dekat akan memanggil mantan pacar ST untuk dimintai keterangan.

Psikolog sekaligus dosen di Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) Cimahi, dr. Miryam Ariadne Sigarlaki, menanggapi maraknya kasus pembunuhan dan pembuangan bayi oleh orangtua kandungnya.

Kedekatan anak dengan orangtua menjadi faktor yang menyebabkan banyak kasus kehamilan di luar nikah terjadi. Hingga puncaknya, ketika seorang anak perempuan hamil di luar nikah, akan memilih aborsi atau membuang dan membunuh bayi yang dikandung karena hubungan terlarang.

“Mereka mau kembali ke orangtua atau ke orang terdekat, akan memiliki pikiran takut ditolak dan justru diasingkan. Apalagi masyarakat juga memiliki peran yang cukup siginifikan dalam keseharian seseorang,” katanya.

(cr1)

loading...

Feeds