Reaktivasi Jalur Kereta Api, 100 Kepala Keluarga yang Tempati Rel Gelisah

Jembatan jalur kereta Bandung - Ciwidey yang sudah tidak beroperasi di Kampung Rancagoong, Desa Cikoneng, Kecamatan Pasir Jambu, Kab Bandung, Minggu (16/9/2018).

Jembatan jalur kereta Bandung - Ciwidey yang sudah tidak beroperasi di Kampung Rancagoong, Desa Cikoneng, Kecamatan Pasir Jambu, Kab Bandung, Minggu (16/9/2018).

POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH – Rencana reaktivasi empat jalur kereta api di wilayah Jawa Barat membuat warga yang selama ini menempati dan membangun rumah di atas rel yang sudah tidak aktif gelisah. Salah satunya Kampung Mulyasari Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung.


Salah seorang warga Kampung Mulyasari Agus K (58) mengatakan, dirinya dan keluarga sudah menempati rel yang sudah mati itu lebih dari 20 tahun. Dengan adanya rencana di aktifkan kembali Agus binggung harus pindah kemana.

“Saya binggung aja harus seperti apa,” katanya.

Jika rencana reaktivitas jalur kereta tersebut jadi direalisasikan, akan banyak rumah warga yang pastikan akan tergusur. Lantaran lebih dari 100 Kepala keluarga yang menempati kawasan tersebut lebih dari 20 tahun.

“Belum tau kapan, kan belum ada yang kesini belum ada sosialisasi kesini, ya mudah-mudahan ada uang pengganti,” harapnya.

Sementara itu ditempat terpisah Sekreraris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan rencana ini baru tahapan rencana awal untuk di mungkinkannya jalur kereta apai di jawa barat di aktofkan salah satunya menuju Ciwidey.

“Yang perlu kita lakukan adalah berkomunikasi dengan balai besar kereta api wilayah Jawa Barat mengingat lahan kereta api yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” kata Iwa di Kantor Disperindag UPTD Industri Pangan, Olahan dan Kemasan, Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Selasa (18/9/2018).

Menurut Iwa, karena bersinggungan langsung dengan masyarakat

pihaknya akan segera membentuk tim khusus yang berfungsi untuk melakukan berbagai persiapan salah satunya pendataan dan menentukan besaran santunan yang akan diberikan melalui appraisal.

“Nanti kita akan bentuk tim terpadu penanganan dampak sosial reaktivasi kereta api,” ujarnya.

Iwa mengungkapkan hal tersebut sudah dilakukan di wilayah Sukabumi-Bogor dalam pembangunan double track kereta api. Pembangunan double track itu masih dilakukan di tanah PT KAI, namun tanah tersebut ditempati warga sebagai rumah tinggal.

“Prinsipnya sama sebagaimana di Sukabumi-Bogor. Sifatnya bukan pergantian karena itu tanah milik kereta api. Secara aturan tidak dimungkinkan untuk dilakukan penggantian karena itu tanahnya milik negara, tetapi tentu pemerintah berlaku arif, artinya ada regulasi yang memungkinkan santunan. Saya minta kepada masyarakat, mewanti-wanti jangan resah ini semua demi kemajuan masyarakat secara keseluruhan,” pungkasnya.

(ipn)

 

Loading...

loading...

Feeds