Defisit Neraca Perdagangan Migas Menggerus Devisa

migas

migas

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Tingginya impor di sector minyak dan gas (migas) kembali membuat neraca perdagangan Indonesia deficit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada Agustus 2018 defisit neraca perdagangan tercatat sebesar USD 1,02 miliar. Defisit tersebut disumbang dari deficit neraca migas sebesar USD 1,6 miliar dollar AS. Sedangkan sektor non migas masih surplus USD 639 miliar.


Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit yang terjadi pada sektor migas pada disebabkan tingginya impor migas yang mencapai USD 3,04 miliar per Agustus lalu. “Itu adalah angka impor migas tertinggi sepanjang 13 bulan terakhir,” ujarnya saat konferensi pers Senin (17/9/2018).

Pria yang akrab disapa Kecuk itu menjelaskan, secara month to month (mtm), impor migas naik 14,5 persen. Sedangkan impor non migas turun 11,79 persen. Peningkatan impor migas dipicu naiknya nilai impor minyak mentah dan gas masing-masih sebesar USD 420,3 juta dan USD 22,4 juta. Sementara impor hasil minyak turun USD 7,1 juta.

“Impor mingas ini kami harapkan bisa ditekan dengan adanya kebijakan B20 yang sudah dikeluarkan pemerintah. Kami belum dapat melihat hasilnya ke depan seperti apa, tapi semoga dampaknya ke neraca dagang bisa lebih cepat,” ucap Kecuk.

Secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2018, total nilai impor Indonesia mencapai USD 124,18 miliar, atau meningkat 24,52 persen secara year on year (yoy). Sementara nilai ekspor naik 10,4 persen (yoy), dari USD 108,79 miliar pada Januari- Agustus 2017 menjadi USD 120,1 miliar pada periode yang sama tahun ini. Dengan kenaikan impor yang lebih tinggi disbanding ekspor ini, sepanjang 2018 berjalan deficit neraca dagang Indonesia telah mencapai USD 4,09 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengatakan, terlalu lama jika pemerintah menunggu efek langsung dari kebijakan B20 pada penurunan deficit neraca dagang. Kebijakan yang mewajibkan penggunaan 20 persen bahan bakar nabati (BBN) dari kelapa sawit itu kemungkinan baru mampu menekan deficit neraca dagang tahun depan. “Lebih cepat kalau pemerintah segera mengeluarkan kebijakan pembelian hasil produksi dari KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) oleh PT Pertamina. Itu dampaknya bisa langsung terasa ke neraca perdagangan tahun ini,” ungkapnya.

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Muhammad Faisal menilai kebijakan B20 masih belum teruji. Sebab, pelaku industry masih dalam tahap penyesuaian. Sehingga, B20 belum akan berdampak pada penekanan deficit neraca dagang, apalagi membuat neraca menjadi surplus. “Di sisi lain kenaikan harga minyak dan tekanan pada nilai tukar masih akan terasa sampai akhir tahun, sehingga value dari impor minyak sampai akhir tahun masih bisa naik,” ucapnya.

 

Loading...

loading...

Feeds

Pedagang Jamur Ketiban Berkah Hujan

POJOKBANDUNG.com, PAMULIHAN – Musim hujan yang tengah melanda saat ini, membawa angin segar bagi penjual jamur disepanjang jalan raya Bandung-Cirebon …

Jumlah Penduduk Terus Meningkat

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Jumlah penduduk di Kota Cimahi terus bertambah, mengakibatkan kepadatan penduduk wilayah Kota Cimahi menjadi yang tertinggi di …

Penelitian dalam Negeri Harus Didukung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan upaya membuat vaksin dalam negeri harus didukung. Selain untuk memenuhi kebutuhan …

Calon Jemaah Haji Wajib Divaksin

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kementerian Kesehatan Arab Saudi dikabarkan telah mengeluarkan kebijakan baru terkait syarat mengikuti ibadah haji. Berdasarkan informasi hanya …

Rachmat Yasin Dituntut Empat Tahun Bui

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin, dituntut empat tahun penjara atas kasus korupsi. Yasin diduga menerima gratifikasi dari …