Polda Jabar Ungkap Penyalahgunaan Niaga BBM Jenis Solar di Cirebon

EKSPOSE: Direskrimsus Polda Jabar mengagalkan penyelewangan BBM subsidi di Cirebon, Kamis (6/9/2018) lalu. (NIDA KHAIRIYYAH/RADAR BANDUNG)

EKSPOSE: Direskrimsus Polda Jabar mengagalkan penyelewangan BBM subsidi di Cirebon, Kamis (6/9/2018) lalu. (NIDA KHAIRIYYAH/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG -Petugas Unit III Subdit I Ditreskrimsus Polda Jawa Barat mengungkap penyalahgunaan niaga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di Kabupaten Cirebon, Kamis (6/9/2018).

Tersangka DHS (49) membeli BBM ke SPBU menggunakan kendaraan tangki air, dengan memasang pompa untuk memindahkan solar bersubsidi dari tangki jalan kedalam tangki penyimpanan.

Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Agung Budi Maryoto menyatakan, BBM bersubsidi tidak boleh dijual ke perusahaan industri. Karena, BBM bersubsidi dikhususkan bagi masyarakat yang kurang mampu.

“Tersangka menggunakan alat pompa alkon,” ujar Agung didampingi Dir Reskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Samudi di Mapolda Jabar, Senin (10/9/2018).

Modus yang dilakukan tersangka, membeli solar ke SPBU pada malam hari menggunakan truk tangki air. Kemudian, solar tersebut dibawa ke gudang yang beralamat di Jalan Fatahilah, Desa Megu, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, untuk dipindahkan.

Agung menuturkan, kepolisian akan berkoordinasi dengan Pertamina guna mengembangkan kasus ini. Pasalnya, pihaknya mensinyalir ada oknum pegawai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang bermain dalam kasus ini. Terlebih, tersangka telah menjalankan aksinya sejak Juni 2018.

“Pengakuan tersangka hanya ada 3 SPBU, tapi kami akan tetap melakukan penyidikan lebih lanjut lagi,” tegasnya.

Dalam sepekan, yang bersangkutan bisa mengambil solar sebanyak tiga atau empat kali. Tersangka membeli solar tersebut dari SPBU dengan harga Rp5.150 per liternya, sementara operator SPBU memeroleh Rp200 tiap liternya.

Tersangka melakukan pembelian dalam jumlah 3.000 liter, 6.000 liter, atau 8.000 liter. Setelahnya, yang bersangkutan menjual BBM bersubsidi itu ke perusahaan industri dengan harga Rp7.300 per liter.

“Motif tersangka melakukan aksi ini demi mendapatkan keuntungan. Karena keuntungan yang diperoleh tersangka sebesar Rp1.950 per liter dari penjualan ini. Setiap bulan, pelaku bisa meraup keuntungan sekitar Rp200 juta,” sebutnya.

Akibat aksinya, tersangka dijerat Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang ancaman hukumannya enam tahun penjara, serta denda Rp60 miliar.

(nda)

Loading...

loading...

Feeds

Jokowi Tolak Terbitkan Perppu KPK

Pembahasan rancangan undang-undang (RUU) di akhir masa jabatan DPR 2014–2019 berlangsung dinamis. Mulus mengegolkan UU KPK, langkah pemerintah dan DPR …

BPJSTK Mengajar Edukasi Pelajar SD Cibentar

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Jawa Barat berbagi ilmu pengetahuan dan memberikan semangat kepada siswa Sekolah Dasar (SD) …