Cerita di Balik Tim Estafet 4 X 100m Putra Indonesia

Fadlin, Zohri, Eko dan Bayu merayakan kemenangan setelah finish kedua.Foto:sindo

Fadlin, Zohri, Eko dan Bayu merayakan kemenangan setelah finish kedua.Foto:sindo

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Indonesia akhirnya menciptakan sejarah baru di cabang olahraga atletik nomor estafet 4 x 100m putra. Itu setelah Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan dan Bayu Kartanegara mengamankan medali perak di SUGBK Jakarta, Kamis (30/8) malam.

Yang menarik adalah, komposisi pelari yang diturunkan pelatih tim sprint Indonesia, Eni Nuraini berubah dari saat latihan terakhir sebelum Asian Games berlangsung.

Yaspi Boby yang sebelumnya masuk di tim, digantikan Bayu yang secara kemampuan lebih segar dengan tenaga muda. “Secara teknis memang catatan waktu Boby menurun, dia juga turun di nomor individu 100 meter sebelumnya,” kata Eni.

Beruntung, Bayu merupakan pelari muda yang sejak junior berlatih dengan para seniornya. “Saya latihan sama mereka, meski menjadi pendamping, tetapi sudah ikut. Jadi ketika masuk senior dan ditunjuk sebagai pelari ke berapa pun sudah siap,” beber Bayu.

Tadi malam, Bayu menjadi pelari terakhir sekaligus memastikan Indonesia finis kedua setelah Jepang yang mengemas waktu 38,16 detik.

Raihan sekeping perak kemarin juga menjadi perpisahan sempurna bagi Fadlin. Usianya tahun ini masuk 29 tahun, dia juga sudah merencanakan pensiun setelah Asian Games 2018. “Ini merupakan lomba terakhir buat saya, rencana ke depan saya mau mengabdi sebagai asisten pelatih dulu,” sebut pelari asal Nusa Tenggara Barat itu.

Secara teknis, PB PASI menyebutkan performa atlet Indonesia memang menurun secara perolehan medali emas. “Tetapi sebenarnya bukan itu pertimbangannya, tetapi lebih ke target masing-masing nomor, sejauh ini masih masuk,” sebut Sekjen PB PASI, Tigor Tanjung.

Mengacu perolehan medali dari edisi empat tahun lalu di Incheon, Korea Selatan. Saat itu, Indonesia masih bisa mencuri sekeping emas dari Maria Natalia Londa di lompat jauh putri. Tahun ini, Londa gagal mempertahankan prestasinya.

Londa hanya mampu menempati peringkat ke-5 dengan lompatan sejauh 6,45 meter. Sedangkan di Korsel, atlet asal Bali itu melakukan lompatan sejauh 6,55 meter. Pergulatan dengan recovery cedera lutut kiri dan melawan trauma menjadi persoalan terbesar dia.

Beruntung tim atletik Indonesia masih bisa mengamankan setidaknya dua perak dan satu perunggu yakni, sekeping perak dari Emilia Nova di lompat gawang 100 meter putri. Satu perak dari 4 x 100m putra, dan satu perunggu lahir dari Sapwaturrahman di lompat jauh putra.

(nap/jpnn/pojokbandung)

loading...

Feeds

HNW Tak Percaya Survei Charta Politika

Survei terbaru Charta Politika yang digelar pada 1-9 Maret 2019 menunjukkan selisih elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto yakni berkisar …

Peduli RTH, PT. WOM Finance Bangun Taman

Dalam upaya menjaga kualitas udara di lingkungan perkotaan, Ruang Terbuka Hijau (RTH) sangat diperlukan. Namun, untuk membangun ketersediaan ruang hijau …