Gema Seni Benjang Masih Panjang

Salah seorang anggota paguyuban benjang Dangiang Siliwangi, Iwan Setiawan (27) membersihkan peralatan benjang di Jalan Nagrog, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung Kota Bandung,

Salah seorang anggota paguyuban benjang Dangiang Siliwangi, Iwan Setiawan (27) membersihkan peralatan benjang di Jalan Nagrog, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung Kota Bandung,

POJOKBANDUNG.com, Tradisi kesenian benjang di Ujung Berung, Kota Bandung, menyimpan potensi yang besar untuk sektor pariwisata. Pembangunan infrastruktur kampung wisata Pasir Kunci oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung diharapkan bisa membuat para pelaku seni lebih berdenyut.


———————————————————————————————————-

Bahi Binyatillah B, Radar Bandung

———————————————————————————————————-

Masyarakat di wilayah Nagrog, Ujung Berung, Kota Bandung, sudah tidak asing dengan alunan musik pengiring kesenian benjang yang menggema hampir di setiap sore pada akhir pekan. Pekikan terompet, tabuhan gendang dan lantunan suara sinden itu hampir selalu menjadi pelengkap suasana sore hari di kawasan Ujung Berung.

Wisatawan mengunjungi objek wisata Pasir Kunci di Ujung Berung, Kota Bandung, Jumat (26/8/2018).

Kesenian benjang ini kerap digelar di sebuah lapangan atau diarak di jalanan ketika ada pesta pernikahan hingga khitanan atau memeriahkan event seremonial.

Meski masuk dalam kategori kesenian buhun, hingga saat ini tradisi benjang masih terus dimainkan dan dilestarikan oleh sejumlah paguyuban benjang di Bandung Timur. Bahkan, kesenian ini sudah melanglang buana ke sejumlah daerah di Indonesia dan memainkan peran dalam pra-event Asian Games 2018 di Jakarta.

Ketua Paguyuban Benjang Jawa Barat Abdul Ghani menyebut 35 orang seniman benjang asal Ujung Berung unjuk gigi pada pesta olahraga se-Asia ini. “Perkembangan menananjak sampai sekarang. Bukan hanya di Ujung Berung tapi sudah nasional,” ujar Abdul Ghani, Minggu (26/8/2018).

Klaimnya mengenai perkembangan didasari sejumlah indikator. Salah satunya dengan 40 paguyuban benjang yang terdata masih aktif. Satu di antaranya bernama Dangiang Siliwangi.

Paguyuban ini sudah berumur lebih dari 20 tahun dan masih mentas dalam berbagai acara. Dalam satu bulan, paguyuban ini bisa mendapatkan rata-rata satu sampai dua panggung.

Penasihat paguyuban benjang Dangiang Siliwangi, Darmawan (45 tahun), menyebutkan, kesenian ini masih memilki peminat. Meski, tidak sepopuler 20 tahun yang lalu, menurutnya, kesenian benjang ini masih menyimpan potensi pariwisata dan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.

“Potensi pariwisata sangat ada. Juga untuk mengangkat sektor ekonomi juga bisa menyerap tenaga kerja. Seperti satu paguyuban kan misalnya ada 30 orang pelaku, hitung saja sekarang 40 dikali 30 itu 1.200 orang kalau itu semua bisa manggung berarti semua bisa makan,” kata dia saat ditemui di kediamannya di Jalan Nagrog, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, Minggu (26/8/2018).

Menurutnya, kesenian benjang saat ini dilakoni oleh masyarakat yang kebanyakan berprofesi serabutan. Seperti petani, supir, hingga pemuda yang belum memilki pekerjaan. Masih banyak dan kuatnya para pelaku yang disebut lalakon ini tidak terlepas dari kecintaan mereka yang turun temurun diwariskan oleh orang tua.

“Walaupun dikejar ke usaha (penghasilan) tidak ada. Tapi regenerasi tetap baik. Anak-anak muda masih tertarik mungkin karena mencintai,” katanya.

Ia berkisah, benjang merupakan seni rakyat yang lahir dari kultur masyarakat pertanian. Tarian dan gulat dalam seni benjang ini awalnya merupakan ritual masyarakat dalam mengusir hama di sawah. Itu sebabnya, kesenian ini cenderung mempertontonkan tarian yang merepresentasikan sifat binatang hama, seperti babi, sero, dan monyet.

“Kesenian ini gak seperti pencak silat yang punya rumus baku. Tarian di benjang dibebaskan. Kesenian ini sebenernaya banyak dinikmati dan dilakoni masyarakat bawah. Tapi kalau dikemas dengan baik bisa menjadi potensi pariwisata,” kata dia.

Aphiteater wisata Pasir Kunci di Ujung Berung, Kota Bandung

Ia berharap kesenian benjang ini bisa menjadi ikon Kota Bandung dan bisa dipertontonkan dalam skala yang besar dan rutin. Akan tetapi, menurutnya, kesenian benjang  saat ini terkendala dengan lokasi pementasan.

“Sebenarnya pelaku seni yang ada di seni helaran, jangankan benjang kesenian helaran lain sekarang itu serba salah. Karena helaran butuh tempat, tapi kondisi jalan sekarang macet kendaraan makin banyak. Tapi, kalau dibilang cerah ya cerah karena masih banyak yang suka,” katanya.

Harapan Kampung Wisata Pasir Kunci

Di tengah geliat kesenian benjang yang masih berdenyut namun tertatih-tatih, kampung wisata Pasir Kunci menjadi salah satu pengharapan para pelaku seni tradisi ini. Pemkot Bandung telah membangun destinasi budaya Pasir Kunci di kawasan Ujung Berung Kota Bandung.

Kampung wisata Pasir Kunci ini salah satu destinasi wisata baru yang mengandalkan potensi lokal yang ada di Kota Bandung. Pemkot akan mengaktifkan sekitar 30 destinasi wisata baru di masing-masing kecamatan di Kota Bandung.

Pasir Kunci sendiri saat ini sudah dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 500 meter persegi. Tempat ini akan dijadikan objek wisata yang mengandalkan kesenian tradisi berupa permaianan orang desa dan kesenian khas Bandung Timur yakni benjang, reak, dan dog-dog.

Lokasi Kampung Wisata Pasir Kunci ini berada di perbatasan antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Lokasinya tepat berada di kawasan kaki Gunung Manglayang. Sehingga, bagi wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini pun bisa menikmati pemandangan Kota Bandung dari ketinggian

Di objek wisata ini pun terdapat amphiteater yang khusus untuk menggelar kesenian tradisional seperti benjang dan lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari mengungkapkan konsep pengembangan pariwisata di Pasir Kunci mengadaptasi pementasan kesenian di daerah lain, seperti Bali.

“Kami masih gali potensinya, kalau dari keseniannya, di Ujung Berung kan banyak, seperti benjang, reak. Nantinya, mereka dikurasi dan ada jadwal yang diatur. Tour operator pun bisa mudah mendatangkan wisatawan ke sana. Kalau di Bali bisa, Bandung juga pasti bisa,” katanya saat dihubungi, Minggu (25/8/2018).

Ia mengakui bahwa selama lima tahun ke belakang, pemerintah fokus merumuskan pembentukan industri pariwisata baru. Pengembangannya dilakukan di tahun 2019 dengan mencakup studi kelayakan, salah satu indikatornya adalah tempat penginapan dan akses menuju ke tempat wisata.

Namun, ia menggarisbawahi konsep pengembangan kampung wisata ini berpola pada kemandirian. Untuk itu, masyarakat, khususnya pelaku seni sudah harus punya rumusan pertunjukan yang ditawarkan, termasuk sarana pelengkapnya.

(bbb)

Loading...

loading...

Feeds

Ajak Masyarakat Pelihara Budaya Sunda

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mendukung penuh program “Saur Sepuh” yang diinisiasi oleh PGRI Kota …

Angin Kencang, Pohon Timpa Mobil

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Cijambe, Subang. Akibatnya bodi kendaraan pun ringsek. Peristiwa yang …

Dorong Bupati Rampingkan SOTK

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemkab Subang dinilai terlalu gamuk sehingga pembuatan perencanaan dan penyusunan anggaran …

Bakal Punya Wadah Industri Kreatif

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Wakil Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan bertekad mewujudkan industri kreatif milenial. Gagasan itu rupanya tak main-main. Upaya …

Gandeng LBH Gerakan Pemuda Anshor

POJOKBANDUNG.com, CIMANGGUNG – Untuk melindungi warga karang taruna dan masyarakat Cimanggung yang berurusan dengan masalah hukum, Forum Pengurus Karang Taruna …