Maaf Yah, BPJS Tak Lagi Tanggung Persalinan Warga Miskin

Warga mengantri untuk mendaftar BPJS Kesehatan. Tiap tahun terus mengalami defisit, BPJS Kesehatan diminta berbenah.

Warga mengantri untuk mendaftar BPJS Kesehatan. Tiap tahun terus mengalami defisit, BPJS Kesehatan diminta berbenah.

POJOKBANDUNG.com, SULSEL-  Aturan baru BPJS Kesehatan yang memangkas tanggungan persalinan, katarak, dan fisioterapi, menuai penolakan dari pihak rumah sakit.


DI jajaran rumah sakit (RS) milik Pemprov Sulsel, misalnya, ramai-ramai menyayangkan kebijakan yang dituangkan dalam Perdiyan (Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan) Nomor 5/2018 itu. Dianggap merugikan masyarakat.

Direktur RSUD Haji, Abdul Haris Nawawi, heran dengan adanya evaluasi tanggungan BPJS Kesehatan. Ada beberapa item yang tak lagi bisa diklaim.

Haris mengatakan, dari infomasi yang dia dapatkan layanan yang disetop untuk klaim BPJS Kesehatan yakni penanganan katarak, fisioterapi, dan layanan bayi baru lahir. Padahal, itu memakan biaya besar.

Haris menjelaskan, jika layanan ini dihapuskan, beban pasien yang kena penyakit tersebut akan besar. Apalagi, biaya tiga item tersebut tak kecil, bisa mencapai jutaan.

“Untuk katarak, misalnya. Bisa sampai puluhan juta. Apalagi, layanan untuk bayi yang baru lahir, hitungannya per hari,” sesal Haris, Jumat, 27 Juli.

Pihaknya juga menilai, sosialisasi BPJS Kesehatan minim. Sampai saat ini, mereka masih mengklaim pembiayaan untuk tiga komponen yang dihapuskan tersebut. Terutama, pasien kelas III yang merupakan kalangan menengah ke bawah.

“Kalau BPJS Kesehatan tidak mau ganti, kita gratiskan. Kasihan masyarakat, terutama yang tidak mampu ini,” jelasnya.

Sejauh ini pihaknya belum mendapat pemberitahuan itu. Dia juga berharap RS yang lain, juga tak lantas langsung mengambil keputusan. Mestinya semua tetap dipertanyakan ke BPJS Kesehatan.

Pekan depan Haris berencana bersurat langsung ke BPJS Kesehatan terkait masalah penghapusan item pembiayaan tersebut. Dia tetap ingin mempertanyakan itu, meskipun sudah ada keputusan resmi dari BPJS Kesehatan.

“Pelayanan terbanyak kami juga ada di tiga item itu. Mungkin yang kalangan atas tidak masalah, kasihan ini yang kelas III,” tambahnya.

Direktur RSUD Labuang Baji, Andi Mappatoba juga menyesalkan kebijakan baru ini. Tiga komponen tanggungan yang dipangkas, termasuk yang memakan biaya cukup besar.

(sya/ade/sua/jpnn/pojoksatu)

 

 

Loading...

loading...

Feeds

DJUNAIdi : Puji Buah Karya Pemuda Lokal

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Asisten Deputi Peningkatan Kreativitas Pemuda Kemenpora RI, Djunaidi, terkesima melihat robot asli produk lokal anak bangsa. Ia …

Distribusi Tenagai Pendidik Harus Dibenahi

Bandung – Pemerintah diminta fokus menyelesaikan permasalahan distribusi pengajar dengan solusi terbaik. Selain itu, hal ini pun harus diiringi dengan …

PSS Sleman Vs Persib, Maung Bandung Tetap Waspada

Pertandingan lanjutan Liga 12019 pekan ke-31 akan mempertemukan PSS Sleman vs Persib.Pertandingan PSS Sleman vs Persib ini akan dihelat di Stadion Maguwoharjo, Sabtu …

Unpad Tambah Guru Besar

Universitas Padjajaran (Unpad) mengukuhkan Prof. Dr. Keri Lestari, S.Si., M.Si., Apt sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi …

Benefit Day Penuhi Kebutuan Mitra Grabbike

POJOKBANDUNG.com, RIBUAN mitra Grabbike antusias hadiri acara Grab Benefit Day di Miko Mall Kopo Bandung. Dalam kegiatan tersebut, para mitra …