Usia Senja Bukan Halangan, Tetap Semangat Lestarikan Budaya Wayang Golek

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Usia senja tak menyurutkan semangatnya dalam melestarikan budaya negeri sendiri dia adalah Abah Tatang (66), seorang pengrajin wayang golek asal Kota Bandung.


Tatang yang merupakan generasi ketiga dari kakeknya yang bernama Sumatra,dan merupakan anak dari dalang tersohor tahun 1980an yang bernama Ruhiyat. Tatang sudah menyukai seni dari semenjak ia masih kecil, dan mulai tertarik dengan wayang golek sejak tahun 1967.

“Jadi abah tertarik itu tahun enam tujuh dikarenakan cerita wayang menarik, terus penuh dengan pendidikan moral, etika, disamping pendidikan-pendidikan ke pengetahuan umum,”ujar Tatang.

Wayang golek sendiri merupakan boneka kayu yang mempunyai karakter yang begitu kuat. Pada zaman dahulu, wayang golek ini digunakan sebagai media dakwah islam pada awal masuknya hindu pada abad ke-1 tahun 120 masehi. Dengan karakter yang begitu kaya, dan setiap karakter memiliki makna tersendiri, wayang golek sempat mengalami eksistensi yang cukup kuat di era-nya.

Pada era tahun 60-an sampai era 80-an, cerita wayang masih dominan di kalangan masyarakat. Acara pernikahan hingga sunatan seringkali diramaikan dengan pertunjukan wayang golek. Bukan hanya dikalangan masyarakat, namun para petinggi negara pun banyak yang tertarik dengan kesenian khas Jawa Barat ini.

“Pak Soekarno sendiri senang dengan wayang, mulai tahun 61 sering membeli. Sekali pesanan dari istana itu kurang lebih satu peti, kurang lebih ada yang 90 ada yang 120 karakter, itu hampir setiap pergantian kedutaan,” tuturnya.

Tatang menekuni seni mengukir kayu ini secara turun temurun, dan ia pun berusaha menurunkan hobi yang ia tekuni ini kepada keenam anaknya. Walaupun tidak mewajibkan untuk meneruskan usaha yang dirintisnya sejak lama, ilmu yang Tatang miliki tak pernah berhenti mengalir.

Tidak sedikit orang-orang yang ingin belajar membuat wayang golek, dan Tatang tanpa pamrih bersedia untuk membagikan ilmu yang ia punya kepada mereka.Tatang mengungkapkan untuk membuat satu karakter wayang golek saja membutuhkan keseriusan belajar hingga empat sampai lima tahun.

“Bapak liat dari keseriusan yang ingin belajar, mulai dari mewarnai dulu, anatomi mahkota, anatomi muka, badan, dikuasai sampe 1 tahun setengah baru nelajar bikin badan, kepala, tangan, bertahap,” ujarnya.

Galeri wayang golek milik Tatang yaitu Ruhiyat Wooden Puppet and Mask, bertempat di jalan Pangarang Bawah, Lengkong Besar, Kota Bandung, Jawa Barat.

Galeri ini tentu saja dipenuhi dengan berbagai macam jenis dan tokoh dalam perwayangan. Walaupun usia yang sudah senja, Tatang tidak kehabisan ide untuk tetap bisa memenuhi selera pasar. Wayang golek dikombinasikan dengan pernak-pernik modern seperti pulpen, gantungan kunci, bahkan lampu meja.

Tidak hanya diminati oleh pasar lokal saja, namun wayang golek karya Tatang juga diminati oleh pasar mancanegara. Tatang mengungkapkan, mirisnya lebih banyak peminat dari mancanegara dibanding negri sendiri. namun asa Tatang tidak pernah pudar, kesenian tradisional walaupun sudah termakan zaman, masih tatang tekuni sampai sekarang.

“Abah bikin wayang golek itu udah jadi hobi, jadi ya walaupun peminatnya sedikit bapak tetep semangat buat bikin wayang golek,” ujarnya.

(job aly)

Loading...

loading...

Feeds