Dahlan Iskan: Saya Harus Pulang, Istri Saya Masuk Rumah Sakit, Harus Operasi

Dahlan Iskan di Kansas

Dahlan Iskan di Kansas

Saya bertanya ke anak muda di sebelah saya: adzan untuk apa itu?


”Untuk sembahyang ashar,” kata anak muda itu.

”Asharnya kok telat sekali ya…,” kata saya dalam hati.

Tidak berani sok mengkritik. Kalau di kampung saya ashar setelat itu sudah dipelototi: salat kok ditelat-telatkan. ”Salat itu harus tepat waktu,” begitu ajaran yang selalu didengungkan. Belakangan ini.

Tidak dulu. Waktu saya kecil. Waktu orang-orang masih mencangkul di sawah. Saat waktu ashar tiba. Para petani baru salat ashar sepulang dari sawah. Saat matahari sudah menguning. Seperti di Kunming ini. Tidak ada yang memelototi.

Pukul 19.00 salat ashar di masjid Cheng-yi ini selesai. Matahari kian senja: memerah. Begitu salam, para jamaah langsung berdiri. Tidak ada wirid. Mereka pindah tempat. Duduk melingkar. Menunggu datangnya saat berbuka. Inilah ngabuburit gaya Kunming: tidak ada yang meninggalkan masjid.

Setelah duduk melingkar itu imam tadi membaca Quran: surah yasin. Yang lain menyimak. Sang imam membacanya luar kepala: hafal.

Tidak melihat Quran. Saya ikut menyimaknya. Lewat Quran yang saya ambil dari rak pustaka.

Ternyata semua yang duduk melingkar itu dapat giliran. Ada yang membaca surah yang agak panjang. Ada juga yang membaca surah sependek kulhu. Tiga kali. Semua hafal di luar kepala. Saya hitung: 16 orang. Diakhiri oleh anak muda yang tanpa kopiah putih itu.

Loading...

loading...

Feeds