Pajak Air Tanah di Cimahi Naik 100 Persen

ilustrasi air tanah (pixabay)

ilustrasi air tanah (pixabay)

POJOKBANDUNG.com – Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kota Cimahi menaikkan tarif satuan meteran air tanah yang digunakan oleh industri.

Sekretaris Bappenda Kota Cimahi, Yunita R. Widiana, mengatakan, berdasarkan pertimbangan yang dituangkan ke dalam Peraturan Wali Kota (Perwal), harga air tanah di Cimahi akan disesuaikan.

Saat ini, harga permeter kubik air tanah di Cimahi hanya Rp500 rupiah.

“Perwalnya akan segera disahkan,” kata Yunita di Kantor Pemerintahan Kota Cimahi, Jalan Demang Hardjakusumah, Senin (16/4).

Dia menjelaskan, dari harga Rp 500 permeter kubiknya, pemerintah akan menaikkan harga air bawah tanah menjadi Rp 1.500 sampai Rp 2.000 permeter kubik.

Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Kabupaten Bandung Barat, harga air tanah mencapai Rp4000 permeter kubiknya.

“Sebetulnya, kenaikan di Cimahi tidak besar dibanding daerah lain. Kami dari Bappenda sebetulnya hanya menarik pajak. Di Bandung Raya, tarif air tanah di Cimahi itu yang paling rendah, makanya perlu dinaikkan,”  jelasnya.

Meski sudah menaikkan tarif sebesar tiga sampai empat kali lipat, lanjutu dia, tarif air tanah di Cimahi tetap berada di bawah tarif air tanah kota dan kabupaten tetangga.

“Untuk menaikkan tarif kan perlu konsultasi dulu. Sekarang kebetulan sudah disetujui Gubernur. Untuk kenaikan sendiri baru sekarang, dan hanya naik tiga kali lipat atau empat kali lipat saja,” ucapnya.

Dengan kenaikan tarif tersebut, kata dia, pihaknya berharap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pajak air tanah bisa meningkat. Saat ini, dengan tarif air tanah masih Rp 500 permeter kubik, pemerintah menargetkan PAD sebesar Rp 3,5 miliar.

“Dengan realisasi pajak keseluruhan sampai 102 persen, artinya sudah melampaui target,” terangnya.

Dari seluruh daerah di Kota Cimahi, pihaknya mendata ada 168 wajib pajak dengan 400 sumur. Pemilik sumur air tanah kebanyakan industri yang berada di kawasan Cimahi bagian selatan.

Ia berharap, industri yang menjadi pengguna air bawah tanah mau melaporkan aset yang dimiliknya demi mengoptimalkan pendataan dan pengelolaan pendapatan dari pajak air bawah tanah.

“Untuk pengguna air bawah tanah itu kebanyakan pabrik. Satu pabrik rata-rata punya 2 sampai 3 sumur. Harapannya data penggunaan itu bisa terus diupdate. Sehingga pemungutan pajaknya bisa optimal,” pungkasnya.

(gat)

loading...

Feeds

Tips Wisata Kuliner di Bandung

Wisata kuliner bandung memang banyak menjadi tujuan utama para pendatang di kota Bandung. Bandung memang sangat terkenal dengan berbagai sajian …