Kata Warga Banjir Cicaheum Pernah Terjadi Tahun 1984, tapi Tak Separah Tahun Ini

Sungasi Cipamokolan di kawasan Cicaheum (M Gumilang/Radar Bandung)

Sungasi Cipamokolan di kawasan Cicaheum (M Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Peristiwa banjir bandang yang menerjang Kawasan Bandung Timur (KBT) yakni, Cicaheum dan Jatihandap, Kota Bandung pada hari Selasa (20/3) lalu, diduga disebabkan alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU).


Banjir kali ini merupakan yang terparah dikarenakan banyak tanggul sungai yang jebol serta ratusan rumah hancur.

Maman (57), seorang warga Cicabe RT 03/RW 03, Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung memaparkan kronologis kejadian banjir Selasa (20/3) lalu itu.

Menurut Maman, banjir bandang tersebut terjadi sekira pukul 16.30 WIB. Maman mengatakan, hujan yang mengguyur daerahnya, sebenarnya tidak terlalu besar.

“Hujannya biasa saja, tidak besar. Tapi air di sungai Cipamokolan meluap,” kata Maman saat ditemui Radar Bandung, Rabu (21/3).

Maman menceritakan, bahwa ia baru saja selesai menunaikan ibadah salat asar. Tiba-tiba air di sungai Cipamokolan meluap naik, padahal sungai tersebut mempunyai kedalaman kurang lebih tiga meter.

“Tiba-tiba banjir bandang dan terjadi sangat cepat,” ucapnya.

Menurutnya, besarnya volume air membuat Sungai Cipamokolan tidak kuat menampung air besar tersebut sehingga meluap ke rumah warga.

“Sekira pukul 16.45 WIB, benteng di belakang Toko 1001 (toko di kawasan Jatihandap) jebol, lalu air meluber hingga ke jalan. Meskipun jebol, kalau tidak ada benteng tersebut air yang masuk ke rumah-rumah warga akan lebih besar,” terangnya.

Walaupun pada saat itu sebagian air sudah meluber ke Jalan AH Nasution atau sepanjang Jalan Raya di Cicaheum, tapi ketinggian air di Kampung Cicabe hanya mencapai sekira 60 centimeter saja.

“Airnya mengalir deras di gang-gang, tidak menggenang seperti banjir biasanya, karena ini banjir bandang,” imbuhnya.

Ia mengatakan, sekira pukul 18.30 WIB hujan sudah mulai mereda dan air sudah mulai surut, namun ternyata setelah itu dapat terlihat banyaknya lumpur dan berbagai sampah di sekitaran rumah warga dan juga mencapai Jalan Raya Cicaheum.

“Lumpurnya sangat banyak. Di dalam masjid saja, tebalnya lumpur mencapai 70 centimenter,” katanya.

Hingga Rabu (21/3) dini hari, meskipun hujan sudah tak lagi mengguyur kawasan tersebut, warga masih berupaya membersihkan lumpur baik di sekitaran rumahnya dan di sekitaran gang-gang atau Jalan Raya Cicaheum.

“Pukul 02.00 WIB, warga masih bergotong royong membersihkan lumpur,” terangnya.

Maman mengungkapan, banjir bandang yang terjadi di kawasan Cicaheum dan Jatihandap, tidak hanya terjadi kali ini saja. Pada 1984 lalu, peristiwa serupa juga pernah terjadi meski banjir pada saat itu menurutnya tidak sebesar sekarang.

“Dulu Tahun 1984 pernah juga terjadi seperti ini,” ungkap Maman.

Waktu itu banjir bandang hanya menggenang sebagian rumah warga dan tidak memberi dampak sebesar sekarang.

Namun kini banjir disertai lumpur sangat tebal. Gang-gang yang berada di Kampung Cicabe berubah layaknya sungai dengan air yang mengalir deras.

“Air sampai setinggi paha, sangat deras, tapi alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” imbuhnya.

Menurutnya, kerugian materil akibat banjir sangat besar. Sebab air yang mengalir deras itu membawa lumpur masuk ke dalam rumah dan merendam sejumlah barang-barang, baik perabotan rumah tangga seperti alat elektronik, kasur, kursi, pakaian maupun barang lainnya.

“Warga banyak yang terpaksa membuang barang-barangnya karena rusak terendam banjir dan tidak bisa digunakan kembali,” ungkapnya.

(cr1)

Loading...

loading...

Feeds