Badan Geologi: Bandung Termasuk Kota yang Mengalami Kerusakan Air Tanah

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, Andiani (tengah) saat memberikan sambutan pada konfrensi pers di Badan Geologi, Bandung. (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, Andiani (tengah) saat memberikan sambutan pada konfrensi pers di Badan Geologi, Bandung. (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Bandan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan bahaya dampak lingkungan akibat pengeboran air ilegal.


Karena itu, Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, Andiani menjelaskan tentang larangan pengeboran air ilegal.

“Dalam pemanfatan tata ruang, biasanya ya, ada prospek peraturan zonasi atau peraturan yang menjadi dasar bagi wilayah untuk dikembangkan,” kata Andiani di ruang Media Center Badan Geologi, Jl. Diponegoro 57 Kota Bandung, Senin (19/3).

Andiani mengatakan, salah satu dalam peraturan zonasi, adanya larangan daerah tertentu tidak bisa digunakan pemanfaatan air tanahnya. Contonya, Kawasan Bandung Utara (KBU) yang merupakan daerah resapan air.

“Kami juga sampaikan bahwa karena daerah KBU itu daerah timbunan akar tanah, sehingga tidak dapat pengambilan air tanah di sana,” ungkapnya.

Kata Andiani, Badan Geologi menyarankan memanfatkan air bisa mengambil dari permukan.

“Kalau misal daerah resapan itu diambil air tanah, tentu akan menggangu,” ujarnya.

Andiani melanjutkan, daerah resapan merupakan, daerah air mulai masuk, akan sangat menggangu proses masuknya volume air ke dalam Cekungan Air Tanah (CAT) jika dilakukan pengambilan air.

Disinggung mengenai krisis air tanah di kota mana saja, Andiani menjawab, berdasarkan CAT beberapa daerah tengah mengalami kerusakan air tanah baik secara kualitas dan kuantitas di antaranya, DKI Jakarta, Bandung, Bali, Serang-Banten, Tangerang, Semarang.

“Utamanya memang di pulau Jawa, karena di pulau Jawa, tekanan pembangunan cukup tinggi, jika di banding dengan daerah lain,” ungkapnya.

Andiani berharap, kondisi air di Indonesia baik air permukan dan air tanah menjadi lebih baik dan memenuhi kebutuhan kehidupan manusia sehari-hari dan kebutuhan pembangunan kawasan industri dan pembangunan perkotaan.

“Ke depan tantangan kita ada tiga, krisis pangan, energi dan air, semoga Badan Geologi bisa turut memberikan kontribusi pencegahan,” pungkasnya.

(cr3)

Loading...

loading...

Feeds