“Membongkar Skandal Proyek Sastra Denny JA”

Diskusi “Membongkar Skandal Proyek Sastra Denny JA” di Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, Selasa (13/3). (Iman H/Pojokbandung)

Diskusi “Membongkar Skandal Proyek Sastra Denny JA” di Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, Selasa (13/3). (Iman H/Pojokbandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sejak Denny Januar Ali mengumumkan dirinya sebagai tokoh sastra lalu disusul dengan klaim bahwa dirinya pencetus lahirnya genre puisi baru yaitu “Puisi Esai”, kontroversi terus bergulir di berbagai daerah Indonesia.


Sastrawan Jawa Barat adalah kelompok yang paling keras dan kompak menolak gerakan yang dimotori Denny JA yang juga direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) tersebut. Yang ditolak ialah, kelahiran “Puisi Esai” yang tidak lepas dari “politik uang”.

“Melihat fenomena tersebut, sastrawan di Jawa Barat merasa perlu menolak upaya Denny JA melakukan “politik uang” pada dunia sastra, yang kami sebut sebagai “skandal”,” kata Matdon, penyair yang juga pendiri Majelis Sastra Bandung.

Matdon dan kawan-kawan yang tergabung dalam Aliansi Jabar Tolak DJA, kemudian menggelar diskusi “Membongkar Skandal Proyek Sastra Denny JA” di Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, Selasa (13/3).

Diskusi yang dihadiri sastrawan, seniman, pemerhati sastra, aktivis sastra, dan aktivis budaya itu menghadirkan pembicara Ahda Imran, Yana Risdiana, Ari J. Adipurwawidjana, Heru Hikayat, dan Hikmat Gumelar.

Ahda Imran membabat habis kebohongan Denny JA yang mengelak telah membiayai proyek puisi esai. Tidak hanya itu, Denny JA telah mengijon penulis puisi esai yang kebanyakan bukan penyair, tapi mendadak menjadi penyair.

Penyusunan buku puisi esai yang digagas Denny JA disebut sebagai infiltrasi modal ke dalam sejarah sastra Indonesia. Memang radikalisme modal, terutama di dunia seni, menurut Ahda sangat sulit dideteksi.

“Tak ada undang-undang dan konstitusi yang dilanggarnya. Termasuk manakala radikalisme modal, yang bekerja lewat sistem ijon itu, membuat beragam klaim seperti dinyatakan Denyy JA, yang segera diamini dan diimani oleh para “karyawannya”, bahwa telah lahir angkatan baru dalam sastra Indonesia, Angkatan Puisi Esai,” ungkap Ahda yang juga menulis kritiknya di media massa.

Hikmat Gumelar dari Institut Nalar Jatinangor Unpad berbicara soal gerakan manipulasi yang dilakukan Denny JA dan membandingkan puisi esai Denny JA dengan puisi WS Rendra.

Menurut Hikmat bagaimana puisi sebagai kejadian nyata yang bisa ditegaskan dengan catatan kaki. Puisi itu akan selesai sebagai teks indah tanpa harus ada catatan kaki sebagaimana dalam puisi esai.

“Bahasa dan sastra menjadi kesantunan tertinngi manusia dan itu dilakukan tidak dengan uang ketika disebut sebagai tokoh, tapi dengan karya,” katanya.

Denny JA, kata dia, mengingkari keringat para sastrawan yang berjuang dengan kata untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Denny JA juga tak ambil pusing dengan Rendra, Wiji Tulul, dan atau yang lainnya, yang dengan susah payah melakoni kesetiaan serta berjuang demi sastra, tidak membelinya dengan uang.

Yana Risdiana, advokat pencinta puisi, menyatakan tentang kontrak puisi esai antara penyair dan pihak Denny JA yang mengutif KUHPer Pasal 1338 (3) dan Pasal 1339 KUHPer yang masing-masing berbunyi:

““Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik” dan “Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang”,” ungkapnya.

(men/pojokbandung)

Loading...

loading...

Feeds

Larang Warga Mudik, Kapolri Minta Maaf

POJOKBANDUNG.com – Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo meminta masyarakat dapat memahami kebijakan pemerintah melarang adanya mudik pada periode libur …