Percayalah! Asi Lebih Super Dasi Susu Formula, Ini Alasannya…

ilustrasi susu sapi

ilustrasi susu sapi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menyesalkan, beberapa korporasi besar sukses meyakinkan ibu di Indonesia bila susu formula lebih baik dari Air Susu Ibu (ASI).

Walaupun mendapat tekanan dari World Health Organization (WHO) maupun Kementrian Kesehatan (Kemenkes), Dinkes Kota Bandung melihat pertumbuhan bisnis susu formula tetap tinggi.

Kepala Dinkes Kota Bandung, Rita Verita memaparkan, masih tingginya angka ibu yang tidak menyusui bisa jadi salah satunya disebabkan karena faktor mitos dan iklan susu formula.

Menurut Rita, mitos anak yang gemuk selalu identik dengan makmur dan sehat dan iklan susu formula usia satu tahun ke atas di media massa yang selalu menampilkan bayi gemuk sehat dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata berperan penting dalam pembentukan mindset masyarakat.

Lanjutnya, asalkan ideal sesuai dengan usia pertumbuhan, bayi yang terlihat kurus tidak berarti kekurangan gizi.

“Padahal kesehatan anak dan bayi tidak selalu diukur dari berat badannya,” ujarnya saat diwawancarai Radar Bandung melalui saluran telepon, Minggu (11/3).

Rita menegaskan, pandangan keliru macam inilah yang hendak dilawan Dinas Kesehatan, Kemenkes dan WHO. Rita tak ingin lagi ASI dianggap lebih inferior dari susu formula karena pandangan yang keliru di masyarakat.

“Banyak ibu ketika menyusui anaknya di tempat umum, orang-orang seperti menatap dengan aneh, apa yang salah dengan menyusui,” terangnya.

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Bandung, Stella Tinia, menjelaskan, Indonesia adalah pangsa pasar utama susu formula di Asia Pasifik.

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Bandung, Stella Tinia

Lanjutnya, nilai penjualan susu formula di Indonesia menurut studi dari Global Index mencapai Rp. 25,8 triliun pada tahun 2016.

Persaingan pangsa pasar tersebut diperebutkan oleh pemain besar seperti Sari Husada, Abbott, Wyeth Nutrition, Frisian Flag Indonesia, Nestle, Mead Johnson, dan Danone.

“Nilai belanja iklan perusahaan raksasa tersebut tercatat mencapai Rp. 2,1 triliun pada semester pertama 2016,” jelasnya saat ditemui Radar Bandung di Klinik Laktasi Bandung, Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Minggu (11/3).

Stella memaparkan, dari data lembaga riset Changing Markets, penjualan susu formula global mencapai US$47 miliar per tahun dan diprediksi akan naik sekira 50 persen pada 2020.

Sementara menurut World Health Organization (WHO), konsumsi susu formula bakal meningkat menjadi 10,8 kilogram per bayi pada 2018.

Stella mengatakan, naiknya angka penjualan susu formula dari tahun ke tahun tersebut cukup ironis di tengah kampanye pemberian ASI eksklusif yang dipromotori WHO, Unicef, dan pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

“Pemerintah atas desakan WHO juga telah melarang iklan susu formula untuk bayi 0-12 bulan lewat PP NO. 33 Tahun 2012.

Lanjutnya, ASI atau susu formula adalah perdebatan panas yang selalu berlangsung saban tahun, terutama di forum-forum internet.

Menurutnya, tak banyak ibu bisa punya keleluasaan waktu atau tenaga untuk menyediakan ASI. Stella menjelaskan, tapi semua pakar kesehatan sedunia sepakat bahwa ASI eksklusif adalah asupan gizi terbaik buat bayi agar terhindar dari penyakit dan meningkatkan ketahanan tubuhnya.

Ketika dibandingkan negara-negara maju, segera terlihat bahwa angka pemberian ASI di Indonesia sangat jauh tertinggal. Dengan angkatan kerja perempuan yang relatif lebih tinggi, 77 persen perempuan di Amerika Serikat menyediakan ASI eksklusif untuk anak.

“Sedangkan di Indonesia, angkanya baru 42 persen dari populasi, jauh di bawah sesama negara Asia yang banyak perempuannya juga bekerja seperti Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan,” ujarnya.

loading...

Feeds

Lewat Dunia Games, Telkomsel Gelar Liga ESport

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA– Telkomsel melalui Dunia Games menggelar Liga eSport sebagai rangkaian kompetisi di Indonesia Games Championship (IGC) 2019. Liga eSport …