Penyandang Down Syndrome Susah Cari Sekolah Inklusi di Bandung

Persatuan orangtua anak down syndrome Kota Bandung, Rina Niawati mengenakan jilbab berwarna abu-abu dalam acara Bandung Menjawab di balaikota Bandung Jalan Wastu Kencana, Selasa (6/3). (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

Persatuan orangtua anak down syndrome Kota Bandung, Rina Niawati mengenakan jilbab berwarna abu-abu dalam acara Bandung Menjawab di balaikota Bandung Jalan Wastu Kencana, Selasa (6/3). (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Penyandang down syndrome di Kota Bandung kesulitan mencari sekolah ingklusi negeri di Bandung.


Persatuan orangtua anak down syndrome Kota Bandung, Rina Niawati menjelaskan, jumlah Sekolah Luar biasa (SLB) sudah mencukupi. Namun anak-anak down syndrome seharusnya tidak disekolahkan di SLB, karena anak down syndrome cenderung memiliki sifat peniru.

“Sedangkan di SLB C Kota Bandung siswanya bercampur tidak hanya down sindron, sehingga kurang tepat,” ujarnya saat menghadiri kegiatan Bandung Menjawab di balaikota Bandung Jalan Wastukencana, Selasa (6/3).

Lanjut Rina, sejauh ini orangtua yang mempunyai anak penyandang down syndrome hanya bisa melalui pendidikan ingklusi, agar para anak-anak bisa meniru anak regular lain. Jika mereka masih disatukan dengan down syndrome, tidak bisa saling berkembang.

“Kami ingin Ingklusi benar bisa berjalan di SDN, karena Inklusi swasta itu mahal, saya belum menemukan Ingklusi negri di Kota Bandung,” sambungnya.

Rina menjelaskan, ingklusi itu sebenarnya hanya untuk anak dengan keterbatasan fisik, berbeda dengan anak penyandang down syndrome yang tidak memikiki keterbatasan fisik.

“Kalau disabilitas intelek tual itu baru down syndrome, sehingga proses pembelajaranya pun butuh kesabaran khusus,” ungkapnya.

Sepanjang penglihatan Rina, beberapa sekolah  Inklusi terkadang memiliki syarat yang tidak sesuai dengan penyandang down syndrome, mungkin jika disamakan dengan Anak Berkekutuan Khusus(ABK) lain sangat jauh berbeda.

“IQ mereka kan biasanya hanya 40, tetapi ada yang mau menerima ABK dengan IQ 50, ini sangat tidak sesuai,” ujarnya.

Rina menambahkan, jika memang masih bersyarat menurutnya sudah bukan termasuk Inklusi, ia juga merasa, ada beberapa sekolah yang mempunyai syarat untuk melihat fisik terlebih dahulu sebelum masuk sekolah tersebut.

Sepengetahuan Rina, Inklusi itu seharusnya bisa menerima langsung tanpa syarat, ketika anak tersebut emang sudah usia sekolah, sekolah harus bisa terima anak tersebut.

“Pada intinya, Ingklusi itu belum begitu mengena pada kami,” ujarnya.

Dikatakanya, terdapat 250 anak penyandang down syndrome di Kota Bandung. Ada juga beberapa dari Garut dan Cirebon, Purwakarta, data tersebut memurutnya sudah sesuai riwayat hidup anak dan pemeriksan medis anak.

“Semoga dunia pendidikan dikota bandung bisa mewacanakan masalah yang kami hadapi,” pungkasnya.

(cr3)

Loading...

loading...

Feeds