Pesan “Taksi” Perahu Banjir Bandung Selatan, Waktu Kecil Tak Pernah Kebanjiran

Cecep, warga Baleendah yang sehari-hari mendayung perahu (Gumilang/Radar Bandung)

Cecep, warga Baleendah yang sehari-hari mendayung perahu (Gumilang/Radar Bandung)

BUKAN seorang pelaut, bukan juga nelayan, tapi Cecep (46) warga asli Baleendah, Kabupaten Bandung, lihai mendayung perahu kayu mengarungi jalanan yang terendam banjir.


M Gumilang, Bandung

DI ATAS perahu warna merah dengan panjang 5×1 meter, pria kelahiran 10 Januari 1972 itu setia melayani penumpang yang terjebak banjir Bandung selatan.

Ia biasa beroperasi di Kampung Jambatan, RT 01/ RW 09, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Pada Rabu (28/2) siang lalu, Cecep melabuhkan perahunya di pinggir Jalan Raya Terusan Bojong Soang. Saat banjir, ketinggian air di sana mencapai 1,5 meter. Airnya berwarna coklat keruh oleh lumpur dan sampah.

Pukul 14.30 WIB, Cecep kedatangan dua orang warga yang ingin menyeberang dari Jalan Terusan Bojong Soang menuju arah Jalan Mekarsari Manggahang.

Kondisi daerah tersebut terbilang parah. Bahkan di sana sebuah pom bensin terendam. Begitu juga rumah-rumah di kawasan tersebut.

Kedua warga tersebut nampak hati-hati pada saat menaiki perahu Cecep. Mereka duduk di bagian depan perahu. Cecep tak langsung melayarkan perahunya, ia masih menunggu penumpang perahu lainnya.

Perahu itu sanggup menampung kurang lebih lima sampai tujuh.

“Bentar, yah, tunggu penuh dulu,” ujar Cecep kepada kedua penumpangnya itu.

Setelah menunggu hampir 10 menit, akhirnya perahu diisi lima penumpang. Cecep mulai mendayung. Kecepatannya sekira 5 Kilometer per jam.

Selama perjalanan, di kiri dan kanan perahu terlihat rumah-rumah yang terendam.

“Segini mah udah mulai surut, pas hari Jumat (25/2) dan Sabtu (26/2) lalu, air banjir mencapai 2-3 meter tingginya,” terang Cecep, kepada Radar Bandung yang juga jadi penumpang perahu Cecep.

Bekas genangan air menembus rumah-rumah di sekitar daerah banjir tersebut. Dari air bah itu kadang tercium bau busuk akibat sampah.

Cecep berpendapat, banjir yang menerjang daerahnya disebabkan luapan muara sungai Cisangkuy dan sungai Citarum. Banjir terjadi setiap tahun saat musim hujan.

Meskipun semua warga sekitar sudah mengetahui ancaman banjir, menurut Cecep, mereka enggan berpindah tempat. Sebab, kebanyakan warga kelahiran daerah tersebut selama puluhan tahun.

“Banyak yang asli orang sini di sini mah,” ujarnya.

Karena warga sudah terbiasa dengan banjir, maka ada yang berinisiatif membuat perahu. Perahu ini dipakai untuk melintasi jalanan yang terendam banjir ataupun untuk membantu evakuasi.

“Di sini ada 12 perahu, sebagian dari dana kami dan sebagian dari pemerintah juga ada,” tuturnya.

Perjalanan hingga ujung Jalan Mekarsari Manggahang memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan jarak kurang lebih 500 meter.

Setelah sampai tujuan, Cecep melabuhkan perahunya ke pinggiran jalan yang kering, lalu membantu kelima warga tersebut turun dari perahu. Satu per satu penumpang tersebut membayar kepada Cecep. Ada yang bayar Rp5.000, Rp10.000, ada juga yang Rp20.000.

Dalam sehari, Cecep bisa mendapat Rp100.000-Rp300.000. Uang itu separuhnya ia berikan kepada posko setempat untuk membantu korban banjir, separuh lagi untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya.

“Saya tidak patok sih harus bayar berapa, seikhlasnya saja,” jelas cecep sambil menghitung uang dari penumpangnya.

Loading...

loading...

Feeds