Kampung Adat Cireundeu Tolak Rencana Pemkot Cimahi Aktifkan Kembali TPAS Leuwigajah

Warga kampung adat Cireundeu, Kota Cimahi, peringati tragedi longsor sampah Leuwigajah (Gatot/Radar Bandung)

Warga kampung adat Cireundeu, Kota Cimahi, peringati tragedi longsor sampah Leuwigajah (Gatot/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Keterbatasan lahan membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi kesulitan menyediakan tempat pengelolaan sampah.

Bahkan, rencana mengaktifkan kembali Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS), di Kelurahan Leuwigajah pun mendapat penolakan dari warga.

Terlebih, warga sekitar masih trauma dengan peristiwa longsornya TPAS tiga belas tahun silam yang merenggut banyak korban jiwa itu. Warga tak ingin peristiwa memilukan itu terulang kembali.

TPAS Leuwigajah sendiri dekat dengan Kampung Adat Cireundeu, sebuah kampung yang dikenal dengan beras singkongnya (rasi).

Panitren Kampung Adat Cireundeu Asep Abas, mengatakan sudah cukup 20 tahun lamanya warga hidup berdampingan dengan lingkungan yang tidak sehat.

Karena, lahan seluas 70 hektar itu dikelilingi sampah.

“Intinya kami tidak ingin lagi hidup berdampingan dengan sampah,” tegas Asep, Kamis (22/2).

Selain lingkungan menjadi tidak sehat, lanjut dia, efek negatif lainnya adalah penilaian dari orang lain yang menganggap Kampung Adat Cireundeu identik sebagai tempat sampah.

“Selama 20 tahun, kami merasa seperti tidak memiliki jati diri karena kampung ini dikenal dengan tempat pembuangan sampah,” ujarnya.

Bahkan, selama itu pula warga harus direpotkan ketika mereka hendak bepergian keluar rumah.

Bagaimana tidak, aroma sampah yang melekat di tubuh maupun pakaian, menjadikan warga minder saat akan melakukan aktifitas di luar kampung seperti, sekolah maupun bekerja.

“Dulu kalau mau ke kota harus bawa baju dua. Karena bau sampahnya nempel. Kalau tidak bawa baju ganti, orang lain di sekitar kita pasti mencium bau tidak sedap,” ungkapnya.

Ia menilai, longsornya TPAS Leuwigajah itu akibat ulah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Ditambah lagi, sistem pengelolaan yang tidak benar.

“Sampah terus ditumpuk tanpa mengingat dampak apa yang akan terjadi di lingkungan sekitar. Apakah peristiwa itu belum cukup untuk menyadarkan manusia,” tandasnya.

Sementara itu, meski mendapat penolakan logis dari masyarakat namun, Pemkot Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLh) masih mempunyai niat merefungsikan kembali daerah tersebut (Leuwigajah) sebagai tempat pembuangan akhir terpadu. Alasannya, lagi-lagi keterbatasan lahan.

Sekretaris DLH Kota Cimahi, Ade Ruhiyat, mengatakan dengan adanya peristiwa tersebut akan dijadikan suatu pelajaran dalam pengelolaan sampah.

“Nanti kita akan perbaiki sistem pengelolaannya. Sehingga tidak akan berdampak kepada lingkungan maupun warga,” katanya.

Menurutnya, rencana diaktifkannya lagi pembuangan akhir sampah di Leuwigajah karena, pihaknya ingin sampah di Cimahi dikelola sebaik mungkin dengan memanfaatkan lahan yang ada.

“Lahan ini kan masih status quo, kewenangannya ada di tiga wilayah yakni Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat,” pungkasnya.

(gat)

loading...

Feeds

Dua Pendiri Instagram Mengundurkan Diri

Co Founder Facebook Inc  Instagram, Kevin Systrom dan Mike Krieger mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatannya di perusahaan besar tersebut. Pada …

Telkomsel Kembali Gelar IndonesiaNEXT di Jabar

  POJOKBANDUNG.com, BANDUNG– Dalam rangka menyiapkan generasi muda Indonesia dalam menghadapi persaingan global, Telkomsel kembali menggelar IndonesiaNEXT. Pada tahun ketiga …

Tiga Calon Sekda KBB Siap Bersaing

Panitia seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mengumumkan tiga peserta terbaik yang akan menduduki Jabatan Sekretaris …