Begini Hasil Kondisi Kejiwaan Keluarga Penyimpan Kerangka Manusia

ilustrasi

ilustrasi

POJOKBANDUNG.com – Upaya observasi yang ditempuh pihak kepolisian untuk mengetahui kondisi kejiwaan pelaku penyimpan kerangka manusia terus dilakukan.

Kasat Reskrim Polres Cimahi Niko N Adiputra, mengatakan, pihaknya ingin mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan keluarga Neneng Khatijah (pelaku) nekat hidup bersama mayat selama itu.

“Jadi, perlu waktu sekitar sebulan untuk bisa memegang hasil resminya,” kata Niko, di Mapolres Cimahi, Jalan Amir Machmud kemarin.

Meskipun hasil observasi belum secara resmi dikantongi, saat ini pihak kepolisian maupun Dinas Kesehatan sudah mengetahui garis besar kondisi kejiwaan Neneng bersama kedua anaknya Erna Rendrasari (48) dan Denny Rohmat (43).

“Untuk hasil kondisi sementara dari RSJ Cisarua dan RS Dustira, Neneng dan kedua anaknya, memang mengalami gangguan jiwa. Tapi hasil observasi pasti, belum kami kantongi. Kami masih menunggu agar bisa segera ditindaklanjuti,” tuturnya.

Sementara itu, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi menyatakan, dari hasil koordinasi dengan dokter RSJ Cisarua dan RS. Dustira, terungkap bahwa keluarga pelaku mengidap skizofrenia.

“Mereka memiliki daya halusinasi yang tinggi. Jadi perawatannya harus dipisah agar mendapatkan pengobatan makasimal,” ujar Sekretaris Dinkes Cimahi, dr. Fitriani Manan.

Disinggung mengenai biaya untuk pengobatan para pelaku, dia mengatakan, saat ini menjadi tanggungan Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi, dengan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

“Jika selama pengobatan belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, maka perawatan bisa diperpanjang. Tapi, mereka juga tidak bisa terus menerus berada di rumah sakit, harus kembali lagi ke masyarakat,” tuturnya.

Dengan kejadian ini, Fitri mengingatkan agar masyarakat lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar termasuk tetangganya sendiri. Selain itu, perlu juga peran dari banyak pihak sperti, Puskesmas, dengan pendataan keluarga sehatnya.

“Salah satu indikator pendataan kesehatan yakni gangguan jiwa belum tertangani. Makanya masyarakat harus mau terbuka ketika dilakukan pendataan kesehatan,” imbaunya.

Saat ini, di Cimahi sendiri, ada 375 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terdata, 5 persennya disebabkan oleh faktor genetik.

“Kasus ini juga terbongkar karena petugas Puskesmas mau melaksanakan pendataan keluarga sehat. Untuk Cimahi terhitung cukup tinggi juga. Bisa jadi keluarga Neneng juga karena faktor genetik,” pungkasnya.

(gat)

loading...

Feeds

Sandiaga Uno Kunjungi Pasar Cihapit

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Kunjungi Pasar Cihapit, Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno menilai ini merupakan pasar yang baik. Sandi …