Menikmati Tari, Puisi, dan Musik Eksperimental di Equalibirum

Pertunjukan music di Equalibirum Art Gallery (Adikara Hidayat/Widlanes Festival)

Pertunjukan music di Equalibirum Art Gallery (Adikara Hidayat/Widlanes Festival)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Malam belum juga datang saat pengunjung mulai memasuki Equalibirum Art Gallery. Aroma serta energi seni serentak menyergap pengunjung.


Dari sebuah ruangan, teriak pilu seorang lelaki memecah sunyi. Berbaju serba gelap, mata tertutup kain hitam, serta kedua tangan terikat.

Lelaki itu berusaha membebaskan diri, dari apa pun yang dirasa membelenggu dalam menuangkan ide.

Lelaki itu adalah Ali Imran Karin, seniman yang memilih tari sebagai medium penyalur gagasan. Jam menunjukkan pukul 17.00 saat Ali naik pentas.

Pertunjukan di Equalibirum Art Gallery (Indra Kurniawan/Radar Bandung)

Dalam tiga babak, Ali memukau pengunjung lewat penghayatan tarian peretas batas.

“Dalam sebuah tarian saya bisa memuat nilai tentang situasi depresi, kesungguhan rasa cinta, bahkan kematian,” tutur Ali selepas pentas.

Usai terkagum-kagum dengan penampilan Ali, para pengunjung dibawa pindah menuju ruangan lain. Pada panggung selanjutnya, sosok lelaki bertopi, jaket hitam, dan bercelana jin sobek-sobek sudah berdiri di depan mikrofon.

Lelaki itu tak sekadar hendak berguyon di atas panggung. Jauh dari itu, lelaki bernama panggung Wulff ini membungkus sebuah puisi panjang lewat gaya penampilan slam.

Tampil sekira 15 menit, lelaki bernama asli Harashta Tandjung ini memikat pengunjung dengan keahliannya memainkan tempo selama berorasi. Kalimat-kalimat sarkas meyinggung situasi sosial beberapa kali membuat pengunjung tertawa sinis.

“Orang-orang bilang saat saya mengoceh terlihat seperti serigala. Saya gubah jadi Wulff, biar tetap terkesan lugu,” kata Harashta.

Benar saja, penampilan Harashta sore itu Nampak seperti remaja lugu. Namun setelah memulai orasi, para pengunjung perlahan mengakui kecerdasannya dalam beradu sarkas.

Lewat maghrib, berturut-turut seniman musik berbagi panggung. Sajian musik hip-hop hingga music eksperemintal beraroma psikedelik memikat pengunjung mencapai ujung acara.

Kelompok musik eksperimental asal Bandung, Kusni Kasdut pun tak luput beraksi.

Lengkingan nada yang bersumber dari sederet perangkat music eletronik, serta nyanyian bermuatan kalimat-kalimat buaian, menjadi sajian penutup ciamik hajat apresiasi seni satu ini.

(cr4)

Loading...

loading...

Feeds

249 Tersangka Curanmor Diciduk Polres

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Jabar besama Polres maupun Polresta jajaran wilayah hukum Jabar berhasil meringkus …

Pantau Pelayanan, Bupati Sidak RSUD

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang H. Ruhimat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit umum daerah (RSUD). Hal ini dilakukan …

Jumlah Penduduk Terus Meningkat

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Jumlah penduduk di Kota Cimahi terus bertambah, mengakibatkan kepadatan penduduk wilayah Kota Cimahi menjadi yang tertinggi di …