Penyair Serahkan Petisi Penolakan Denny JA ke Balai Bahasa Jabar

Sejumlah perwakilan penyair dari seluruh Jawa Barat mendatangi kantor Balai Bahasa Jawa Barat untuk menyerahkan petisi

Sejumlah perwakilan penyair dari seluruh Jawa Barat mendatangi kantor Balai Bahasa Jawa Barat untuk menyerahkan petisi "Jabar Menolak Denny JA”. FOTO: AZIZ ZULKHAIRIL/RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sejumlah penyair dan sastrawan dari seluruh Jawa Barat membuat deklarasi penolakan terhadap program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagas pemilik lembaga survei Denny Januar Ali (Denny JA).


Penolakan tersebut dilakukan lantaran program Denny JA dinilai telah membuat penggelapan sejarah, pembodohan, dan segala praktik manipulatif lain dalam kesusastraan Indonesia.

Penolakan tersebut digalang Rois Amr Majelis Sastra Bandung, Matdon. Atas nama penyair yang berada di Jawa Barat, Matdon mendatangi Gedung Balai Bahasa Jawa Barat di Jl. Sumbawa No.11 Bandung, Rabu (31/1). Tujuannya untuk untuk menyampaikan petisi penolakan terhadap Deddy JA.

Dengan bayaran lima juta rupiah, satu sastrawan diwajibkan membuat puisi esai yang diklaim gaya DJA, itu sama dengan para penulis puisi mengakui DJA sebagai ahli sastra,” kata Matdon.

Matdon mengkhawatirkan, DJA bisa membalikan sejarah sastra Indonesia melalui buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dalam 100 tahun terakhir. Buku ini merupakan program Denny JA sebelumnya.

“DJA bisa secara tidak langsung sudah membeli sejarah sastra Indonesia,” tegasnya.

Selain memberikan lembar petisi yang sudah ditandatangani, Matdon juga menginginkan seluruh anggota Balai Bahasa Jawa Barat, tidak ikut serta dalam projek yang dibuat DJA, dan mengharamkan ketokohan DJA sebagai sastrawan berpengaruh di Indonesia.

“Kita tidak ingin Balai Bahasa Jawa Barat, tercemari oleh DJA dan puisi esainya,” singkatnya.

Dengan diberikanya petisi kepada Balai Bahasa Jawa Barat, Matdon berharap petisi tersebut bisa disampaikan secara langsung kepada Badan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Balai Bahasa Jawa Barat harus membersihkan semua orang-orang terlibat projek DJA,” tegasnya.

(cr3)

Loading...

loading...

Feeds