Pilkada Serentak di Jabar Kental dengan Aroma Pilpres

 Adiyana Slamet

Adiyana Slamet

Adiyana menambahkan, pemetaan atau strategi yang dilakukan parpol atau koalisi di tingkatan daerah sudah jelas dan tentu tidak sembarangan. Masing-masing parpol atau koalisi yang ada di daerah sudah melihat aspek-aspek seperti demografis, geografis dan aspek-aspek lainnya untuk merumuskan pemenangan di daerah.


“Yang mempunyai hajat itu kan parpol atau koalisi yang ada di tingkatan kota, kabupaten atau provinsi,” ungkap Adiyana.

Adiyana menambahkan, namun koalisi yang dilakukan parpol-parpol tersebut tidak menjamin untuk memenangkan kontestasi. Alasannya,  jika mesin politik salah satu parpol mati, atau ada salah satu parpol yang hanya secara prosedural hanya mendukung salah satu calon, namun ketika dalam kampanye politik, parpol tersebut diam, maka tujuan koalisi tak akan berjalan.

“Hal ini yang harus dilihat, apakah mesin politik pada parpol mati atau hidup,” ungkap Adiyana.

Adiyana mengatakan, dinamika politik akan terjadi hingga Pilpres 2019 mendatang. Ia menambahkan, sebelum adanya deklarasi, sebelum adanya rekomendasi resmi yang turun dari setiap parpol di tingaktan pusat dan sebelum mendaftarkan secara resmi ke KPU, keputusan kandidat calon belum bisa dikatakan final.

Jika terjadi perubahan atau salah satu parpol yang sudah berkoalisi berubah pikiran dan mencabut dukungannya, maka parpol tersebut akan dikenai denda atau hukuman yang berlaku, seperti undang-undang pemilu, peraturan KPU dan lainnya.

“Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi konstitusional, kita punya aturan dan hukum tentang penyelenggaraan pemilu ini,” terang Adiyana.

(Cr1)

Loading...

loading...

Feeds