Pengabdian Guru Honorer Bandung, Tetap Mengajar Meski Cuma Digaji Rp 480.000

Yahyah dengan tiga muridnya dari SD Yami Bandung yang memenangkan sebuah kejuaraan. Foto: M Gumilang/Radar Bandung

Yahyah dengan tiga muridnya dari SD Yami Bandung yang memenangkan sebuah kejuaraan. Foto: M Gumilang/Radar Bandung

KESEJAHTERAAN guru honorer masih jauh dari layak. Yayah Mariyah, seorang guru honorer di SD Yami, Jalan Karasak, Astanaanyar, Kota Bandung ini mendapat Rp 480.000 per bulan. Gaji sebesar itu mau tidak mau harus cukup untuk bertahan hidup bersama ke enam anaknya.


===========================
Muhammad Gumilang, Bandung
===========================

Diusianya yang menginjak 68 tahun Yayah tetap semangat mendidik anak bangsa. Yayah sudah mengajar di SD Yami sejak 1984 atau 33 tahun lamanya Yayah membaktikan diri menjadi tenaga pendidik. Namun sayang, hingga nasib mujur untuk memiliki status PNS belum menghampirinya hingga saat ini.

Menjadi guru merupakan cita-cita Yayah. Dia diajak almarhum suaminya, Ahmad Hatrawisastra, untuk menjadi tenaga pengajar yang pada saat itu sebagai salah seorang pendiri SD Yami.

Baca Juga:

Guru Honorer Diduga Hina Habib Rizieq di Facebook Bakal Diperiksa Ahli Bahasa

Tulis Status di Facebook Soal Habib Rizieq, Guru Honorer Diamankan Polisi

Yayah tidak menyelesaikan sekolahnya sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Karena cita-citanya yang tinggi menjadi pengajar, Yayah langsung mengambil Paket C. Setelah itu ia melanjutkan dengan mengikuti Kursus Pendidikan Guru (KPG).

33 tahun lamanya mengabdi telah mengukir banyak pengalaman. Banyak kisah dan cerita yang dilalui Yayah saat menjadi seorang guru. Yayah mengatakan, benar adanya jika guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

“Mengajar dengan rasa sayang dan ikhlas kepada para murid butuh kesabaran yang tinggi apalagi anak-anak SD,” ungkap Yayah saat ditemui Radar Bandung (grup pojokbandung.com), di kediamannya, komplek Mekarsari Endah, Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (28/12/2017).

Yayah mengungkapkan, meskipun statsunya masih honorer ia tetap bersyukur bisa melihat anak didiknya menjadi orang yang sukses dan berhasil.

“Ada yang menjadi guru, dosen, pengacara, pengusaha dan lainnya. Rasa bangga dan puas ketika melihat murid didik saya menjadi orang yang bermanfaat,” terangnya.

Komitmen mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar hingga sekarang masih menjadi alasan kuat bagi Yayah. Dia tidak merasa lelah atau ingin berhenti menjadi seorang guru walaupun dibayar dengan harga yang jauh dari kata cukup.

Yayah mengaku, alasan tetap bertahan menjadi guru karena prestasi yang dicapai para muridnya membuat ia tetap semangat dan menjadi motivasi untuk tetap teguh menjadi seorang guru hingga akhir hayat.

“Selama saya masih bisa bernafas dan diberikan kekuatan mengajar oleh Allah, saya akan berusaha memberikan yang terbaik,” imbuhnya.

Dalam satu bulan pendapatan Yayah hasil mengajar hanya Rp 480.000. Nilai itu ia dapatkan dari satu jam mengajar dibayar Rp 20.000 dikalikan 24 jam dalam satu pekan.

Besaran nilai itu berbeda jauh jika dibandingkan dengan Upah Minimum Kerja (UMK) Bandung yang nilainya lebih dari Rp 2 juta.

Loading...

loading...

Feeds