Kematian Jonghyun Tegaskan Angka Bunuh Diri di Korsel Tertinggi di Dunia

Foto Pemakaman Jonghyun (AP via latimes)

Foto Pemakaman Jonghyun (AP via latimes)

POJOKBANDUNG.com -Kasus bunuh diri yang dialami bintang K-Pop, Jonghyun, kembali menguak fakta bahwa dalam beberapa tahun belakangan, Korea Selatan (Korsel) tengah bergulat dengan wabah memalukan, yakni bunuh diri.


Tingkat bunuh diri tertinggi berasal dari dunia industri hiburan. Padahal, industri musik dan hiburan Korsel tengah mendapatkan pengakuan dunia atas sejumlah prestasi yang berhasil ditorehkan.

Dilansir Los Angles Times, Korsel memang dicap sebagai negara dengan kasus bunuh diri tingkat tinggi yang melibatkan banyak selebriti dan bahkan mantan presiden Roh Moo-hyun, yang bunuh diri dengan melompat dari tebing pada 2009 di tengah skandal.

Penyanyi, penulis lagu, dan anggota boyband SHINee Kim Jong-hyun, yang dikenal dengan nama panggung Jonghyun ditemukan tewas pada Senin (18/12/2017), di sebuah apartemen di distrik Gangnam, Seoul.

Kantor Berita Korsel Yonhap melaporkan pihak kepolisian menemukan briket batu bara yang terbakar dan menghasilkan karbon monoksida.

Baca Juga:

18 Anggota Polri Bunuh Diri, Lemkapi Beberkan Penyebabnya

TRAGIS! Keluarga Tolak Operasi Sesar, Ibu Hamil Ini Bunuh Diri Lompat dari Lantai 5 Rumah Sakit

Kematian Jonghyun, yang mengejutkan penggemar di seluruh dunia adalah salah satu contoh bahwa tingkat kematian bunuh diri Korsel yang mengkhawatirkan, di mana dua tahun lalu melampaui sembilan negara di seluruh dunia.

Pada tahun 2015, terjadi 13.500 kasus bunuh diri atau sekitar 37 kasus per hari di Korsel. Bahkan, World Health Organization (WHO) mencatat kasus bunuh diri adalah penyebab kematian nomor dua setelah kecelakaan di negara tersebut.

Kematian Jonghyun membuat Korsel menyoroti masalah penyakit sosial yang telah tumbuh lebih umum selama generasi terakhir. Padahal, negara maju lainnya telah mengalami penurunan kasus bunuh diri.

“Ini adalah fenomena sosial yang berasal dari kombinasi masalah individu, masyarakat dan generasi,” kata psikiater di National Medical Center yang juga bekerja dengan Assn Korea untuk Pencegahan Bunuh Diri, Kim Hyun-jeong.

Dia mengatakan bahwa beberapa penyebab bunuh diri telah melampaui batas dan sedikit banyak terpengaruh dari perubahan Korsel yang dalam dua generasi bertransformasi dari masyarakat agraris miskin ke negara dengan ekonomi terbesar ke-11 di dunia.

Baca Juga:

Video: Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Bunuh Diri di Persidangan Mahkamah Internasional

Bom Bunuh Diri di Masjid, 72 Orang Tewas. di Antaranya Anak-anak

Perkembangan pesat setelah Perang Korea menyebabkan ketidaksetaraan pendapatan dan memunculkan pemikiran masyarakat yang mengedepankan persaingan dan prestasi antar individu dan kualitas hidup.

Oleh karena itu, muncul teori bahwa banyak orang Korsel berpikir mereka lebih baik mati daripada menderita penghinaan karena kehormatan yang dipertaruhkan.

Hyun Jeong mengungkapkan tingkat bunuh diri sangat tinggi terjadi pada kalangan muda maupun tua. Dua kelompok yang dianggap paling rentan. Transformasi ekonomi, dianggap melukai banyak penduduk lanjut usia yang sudah tidak bekerja. Mengingat, fakta bahwa sekitar setengah dari orang tua hidup dalam kemiskinan atau memiliki penghasilan terbatas karena rencana pensiun pemerintah hanya dimulai tiga dekade yang lalu.

Sedangkan, anak muda menghadapi tekanan kuat dari keluarga dan masyarakat untuk berprestasi di sekolah. Ditambah lagi, pekerjaan dengan gaji tinggi semakin sulit didapat sejak krisis ekonomi tahun 1990an, sehingga mendorong iklim kompetisi yang tinggi di dunia kerja.

Menurut Korean Statistical Information Service, pada tahun 2015, bunuh diri adalah penyebab kematian nomor satu pada orang berusia 10 sampai 39 tahun.

Maka, pemerintah Korsel melakukan segala upaya untuk mengurangi kasus bunuh diri. Di antaranya, menempatkan penghalang di atap dan jembatan bertingkat tinggi yang melintasi sungai Han, sungai yang luas melintasi Seoul. Selain itu, tentunya melibatkan para pskiater untuk mengatasi masalah kejiwaan.

(yln/JPC)

Loading...

loading...

Feeds