Apakah Penyakit Mematikan, Difteri Bisa Dicegah? Ini Kata Dokter RSHS Bandung

Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung, Dr. Djatnika Setiabudi, dr. Sp.A(K), Dr Djatnika Setiabudi, dr Sp A(K) (tengah) dan Staf SMF Kedokteran Anak RSHS Bandung, Dr Anggraeni Alam, dr Sp A(K) (kanan), saat sosialisasi penyakit difteri di RSHS Bandung, Selasa (5/12).

Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung, Dr. Djatnika Setiabudi, dr. Sp.A(K), Dr Djatnika Setiabudi, dr Sp A(K) (tengah) dan Staf SMF Kedokteran Anak RSHS Bandung, Dr Anggraeni Alam, dr Sp A(K) (kanan), saat sosialisasi penyakit difteri di RSHS Bandung, Selasa (5/12).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG- Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung tengah menangani dua pasien anak kecil yang diduga pengidap penyakit difteri.


Pihak RSHS segera melakukan isolasi terhadap kedua pasien tersebut. Proses isolasi berlangsung selama 3-4 minggu hingga dinyatakan negatif diferti.

BACA JUGA:

RSHS Bandung Tangani 20 Pasien Penyakit Mematikan, Difteri. 2 Anak Meninggal

Pemerintah Tetapkan KLB Kasus Difteri, 10 Orang Meninggal di Jabar

Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung, Dr. Djatnika Setiabudi, dr. Sp.A(K) menyebutkan, kedua pasien anak tersebut masih dirawat di RSHS Bandung saat ini.

“Pasien anak asal Bandung Barat berusia 12 tahun baru menjalani perawatan selama 5 hari di RSHS, sedangkan pasien anak asal Purwakarta berumur 14 tahun dapat pulang dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Difteri, Penyakit Tenggorokan yang Mematikan. Ini Cara Mengenalinya

Djatnika mengatakan, RSHS telah menangani sekitar 20 pasien difteri selama 2016-2017. “3 orang pasien telah dioperasi, 2 orang yang meninggal dunia,” kata dia.

Djatnika menyayangkan masih kurangnya pengetahuan masyarakat soal seberapa pentingnya imunisasi atau vaksinasi untuk mencegah penyakit ini. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang menolak divaksin seperti DPT dan juga virus dari pembawa difteri ini yang tidak disadari.

“Meskipun kebanyakan menyerang anak-anak, penyakit Difteri ini dapat menyerang semua umur,” ujar Djatnika.

Hal ini berdampak pada ketika pasien yang datang dengan diagnosa diferti, sudah dalam kondisi parah. Perlunya disiplin vaksinasi dalam hal ini yang menjadi sorotan utama guna menanggulangi penyebaran difteri tersebut.

“Vaksinasi diakukan 4 kali seumur hidup. Yakni sejak bayi usia 18-24 bulan dan 2 kali ketika SD. Itupun seharusnya 10 tahun sekali harus di vaksin lagi,” tegas Djatnika.

Loading...

loading...

Feeds

Pantau Pelayanan, Bupati Sidak RSUD

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang H. Ruhimat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit umum daerah (RSUD). Hal ini dilakukan …

Jumlah Penduduk Terus Meningkat

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Jumlah penduduk di Kota Cimahi terus bertambah, mengakibatkan kepadatan penduduk wilayah Kota Cimahi menjadi yang tertinggi di …