Ketika 20 Tuna Netra Mendaki Gunung Manglayang

Fadli (kiri) dan Daman (kanan) nampak akrab saat menuruni Gunung Manglayang, Kabupaten Sumedang, Minggu (3/12). MUHAMMAD GUMILANG/RADAR BANDUNG

Fadli (kiri) dan Daman (kanan) nampak akrab saat menuruni Gunung Manglayang, Kabupaten Sumedang, Minggu (3/12). MUHAMMAD GUMILANG/RADAR BANDUNG

JIKA kebanyakan orang mendaki gunung karena ingin melihat indahnya alam semesta. Namun, apa yang terjadi jika yang mendaki adalah sekumpulan tuna netra? Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) bersama Pioneer of Adventure and Rescue Association (PANTERA) ingin membuktikan bahwa, tak hanya dengan mata kita mampu melihat indahnya alam, melainkan dengan rasa (mata hati) pun mampu melihatnya.


Muhammad Gumilang, Radar Bandung

Cuaca begitu bersahabat Sabtu (2/12) pagi saat 20 orang tuna netra sedang mempersiapkan dirinya di kaki Gunung Manglayang, Kabupaten Sumedang.

Memulai persiapan sekitar pukul 07.00 WIB, tepat pukul 11.00 WIB, mulailah mereka mendaki saat seluruh persiapan telah tersedia.

Dalam pendakian ini, setiap orangnya mendapat pendamping dari unit Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjajaran (Unpad). Meskipun para tuna netra itu tahu banyak resiko yang akan dihadapi, tak ada rasa takut sedikit pun.

Senyuman bahagia dan semangatlah yang justru terasa. Bebatuan yang licin, akar pohon yang besar, ranting-ranting yang menjulur ke jalan serta tanjakan curam dilalui dengan mudah melalui intruksi yang diberikan.

Gerimis yang menguyur perjalan mereka tak membuat mereka menjadi mengeluh hingga kehilangan semangat.

Daman (25) salah seorang tuna netra yang ikut dalam ekspesidi kali ini, merupakan pengalaman pertamanya. Ia berani mencoba mengkikis stigma negatif keterbatasan disabilitas di mata masyarakat.

Saat itu, Daman didampingi Fadli Azhari (25) dari Himpunan Pecinta Alam (Himpala) Ercorps. Semangat Daman yang pertama kalinya mendaki membuat Fadli ikut bersemangat. Tapak demi tapak dilalui mereka dengan semangat, Fadli memberikan arahan, Daman mendengarkan dengan baik.

Sesekali keduanya pun saling menyemangati jika sudah mulai kelelahan, meskipun pertama kalinya mereka mendaki bersama, kekompakannya sudah terbangun begitu erat.

Sesekali, Fadli memperlihatkan ekspresi kekagumannya setiap Daman berhasil melewati tanjakan curam. “Dia gak ngeluh sedikit pun, semangatnya bikin saya kaget,” ujarnya setibanya di pos istirahat.

Loading...

loading...

Feeds

Setahun Zona Merah di Indonesia

PADA 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Depok, Jawa Barat, terpapar virus mematikan Covid-19. Setelah pengumuman menyeramkan itu, suasana …

46 Warga Kampung Jati Dievakuasi

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI – Aktivitas bencana pergerakan tanah yang memprakporandakan tiga perkampungan penduduk di wilayah Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, kian meluas …

Korban Banjir Terjangkit Ragam Penyakit

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Banjir yang sempat melanda wilayah utara (Pantura), Subang menimbulkan dampak penyakit bagi warga, yakni penyakit gatal pada …

Bakti Sosial Dosen untuk Masyarakat

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Sepuluh dosen Program Studi Pendidikan Guru (PG) PAUD IKIP Siliwangi Bandung melaksanakan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) …

Sumber Bantuan Perbaikan RTLH di Cimahi

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) di Kota Cimahi segera dilaksanakan. Rencana pelaksanaannya di bulan Maret atau …